Minggu, 04 Maret 2012
PERAN KONFLIK PERAN GANDA KARYAWATI (IBU) DAN PERSEPSI PENGEMBANGAN KARIR DENGAN STRES KERJA KARYAWATI
PERAN KONFLIK PERAN GANDA KARYAWATI (IBU) DAN PERSEPSI PENGEMBANGAN KARIR DENGAN STRES KERJA KARYAWATI
PT. APAC INTI CORPORA SEMARANG
Andi Asmara
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2007
A. Stres Kerja
1. Pengertian Stres Kerja
Robins (2004) memandang stres sebagai kondisi dinamis individu yang
dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraint) atau tuntutan
(demand) yang dikaitkan dengan hal-hal yang diinginkan da n hasilnya
dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak pasti namun penting untuk diadakan.
Pendapat lain dikemukakan Handoko dan Reksohadiprodjo (2001) yang
mengatakan bahwa stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi
emosi, proses berpikir , dan kondisi individu. Lebih lanjut disebutkan bahwa stres
yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungannya.
Sarafino (1998) mendefinisikan stres sebagai kondisi yang dihasilkan
ketika terjadi transaksi antara orang dengan lingkungan yang menunjukkan
individu merasa ketidakcocokan – apakah nyata atau tidak nyata – diantara
permintaan situasi dan sumber -sumber biologis, psikologis, atau sistem sosial dari
seseorang.
Jex et al. (1999) mendefinisikan stres kerja melalui tiga pendekatan, yaitu
pendekatan stimulus, respon dan interaksional. Stres kerja sebagai stimulus
memandang stres adalah suatu kondisi yang memunculkan tuntutan berupa suatu
bentuk respon tertentu. Stres kerja sebagai respon adalah suatu reaksi individu
yang mengakibatkan tekanan dan penyimpangan baik fisiologis, psikologis dan
atau perilaku pada seseorang dalam suatu organisasi yang menimbulkan
ketidaknyamanan. Stres kerja sebagai interaksi stimulus-respon adalah stres
bersumber dari interaksi antara stresor pekerjaan dengan respon terhadap stresor
tersebut.
Munandar (2001) memberikan suatu penegasan bahwa stres selalu
berkaitan dengan pengungkapan seluruh kecenderungan lahiriah, yang timbulnya
karena ada tuntutan pada setiap bagian tubuh dan hal ini tid ak dapat dihindari
oleh manusia. Lebih lanjut Maramis (1998) berpendapat bahwa stres adalah segala
masalah atau tuntutan penyelesaian diri, yang bila tidak diatasi dengan baik akan
mengganggu keseimbangan hidup dari manusia.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
stres kerja merupakan tuntutan pekerjaan yang tidak dapat diimbangi oleh
kemampuan karyawan.
2. Sumber Stres Kerja
Menurut Erita (2001) bahwa stres kerja dapat berasal dari:
a. Kondisi kerja, meliputi beban kerja yang berlebihan, atau beban kerja yang
kurang, pengambilan keputusan, kondisi fisik yang berbahaya dan
pembagianwaktu kerja.
b. Ambiguitas dalam menempatkan peran (konflik peran). Hal ini biasanya
terjadi pada organisasi yang besar dan struktur oraganisasinya yang
kurang baik. Karyawan kadang-kadang tidak tahu apa sebenarnya yang
diharapkan perusahaan, sehingga ia bekerja tanpa arah yang jelas. Kondisi
ini akan menjadi ancaman bagi karyawan yang berada pada masa karir
tengah baya karena harus berhadapan dengan ketidakpastian. Akibatnya
dapat menurunkan kinerja, meningkatkan ketidakpuasan kerja,
kecemasan, ketegangan dan keinginan keluar dari pekerjaan. Kondisi
seperti ini tentu menghadirkan konflik yang harus dapat diatasi agar tidak
menimbulkan stres.
c. Faktor interpersonal. Hubungan interpersonal dalam pekerjaan merupakan
faktor penting untuk mencapai kepuasan kerja. Adanya dukungan sosial
dari rekan sekerja, maupun keluarga diyakini dapat menghambat
timbulnya stres. Dengan demikian perlu ada kepedulian pihak manajemen
pada karyawan agar selelu tercipta hubungan yang harmonis.
d. Pengembangan karir. Karyawan biasanya mempunyai berbagai harapan
dalam kehidupan karir kerjanya, yang ditujukan pada pencapaian prestasi
dan pemenuhan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Apabila
perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan karyawan untuk berkarir,
misalnya sistem promosi yang tidak jelas, kesempatan untuk
meningkatkan penghasilan tidak ada, karyawan akan merasa kehilangan
harapan, tumbuh perasaan ketidakpastian yang dapat menimbulkan gejala
perilaku stres.
Selain itu menurut Lambert, et al., (2004) bahwa pada wanita yang bekerja
dan berkeluarga akan mengalami konflik ganda yaitu konflik kerja dan konflik
peran dalam rumah tangga, dan hal ini menyebabkan wanita (istri) lebih rentan
terkena stres dibading suami atau pria.
Nelson dan Burke (2002) menyebutkan bahwa sumber stres dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu :
a. Sumber stres dari organisasi, meliputi :
1) Stereotype gender. Asumsinya karyawan wanita akan diperlakukan
diskriminasi dibanding karyawan pria pada persoalan karir, karena pria
merupakan penanggung jawab rumah tangga keluarga.
2) Komitmen, motivasi, dan tanggung jawab. Menurut Nelson dan Burke
bahwa wanita kurang berkomitmen, motivasi, dan bertanggung jawab
terhadap pekerjaan dibading karyawan pria.
3) Karyawan minoritas. Karyawan minoritas baik itu bersifat etnis ataupun
agama akan merasa terkucilkan dibanding rekan -rekan kerja lain, dan ini
akan menyebabkan timbulnya stres kerja.
4) Struktur dan Budaya organisasi. Struktur dan budaya organisasi yang
bersifat family business dan masih bersifat konvensional dan penuh
dengan budaya nepotisme, minimnya akan kejelasan struktur, peran,
wewenang, dan tanggung jawab, terlalu kakunya struktur kerja atau
malah tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak sehat serta
minimnya keterlibatan atasan membuat karyawan jadi stres.
5) Jaringan bisnis. Pria lebih bersifat status quo dibanding wanita pada
persoalan jaringan bisnis. Hal ini dibuktikan oleh Suartini dan Pursika,
(2006) yang menemukan bahwa pada parta politik wanita hanya mengisi
jabatan bersifat gender seperti sekretaris, bendahara, dan kepala biro
wanita. Sedangkan pria sanga t dominan pada jabatan-jabatan lain. hal ini
akan membuat wanita menjadi lebih stres dibading pria.
b. Sumber stres dari individu meliputi :
1) Harga diri. Pria memandang harga dirinya lebih tinggi dibanding wanita,
karena ia merasa lebih bertanggung jawab dibanding wanita pada
persoalan rumah tangga. Selain itu karyawan yang tidak mampu
menghargai dirinya sendiri akan dikucilkan oleh karyawan lain.
2) Self efikasi. Karyawan yang tidak memiliki kepercayaan diri akan lebih
mudah terkena stres dibading karyawan yang memiliki kepercayaan diri
yang tinggi.
3) Personal kontrol. Seseorang diharapkan dapat memiliki personal kontrol,
hal tersebut dimaksudkan agar individu dapat mengkontrol segala sesuatu
yang dia hadapi agar tidak terjadi berlebihan pada dirinya serta menjaga
timbulnya stres ditempat ia tinggal dan bekerja.
4) Dukungan suami (marital support). Karyawan wanita yang bekerja tanpa
dukungan suami akan menyebabkan terjadinya konflik dalam rumah
tangga. Hasil penelitiannya Greenglass, et al. (2006) menyebutkan bahwa
dukungan suami merupakan kemampuan suami untuk membantu istri
berupa informasi, nasehat, atau sesuatu yang dapat membesarkan hati agar
istri lebih aktif untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal
tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi stres kerja yang berlebihan.
Robins (2004) juga menjelaskan bahwa setiap individu yang mempunyai
ragam latar belakang kehidupan pribadi berbeda -beda dapat berpengaruh terhadap
timbulnya stres kerja karyawan karena faktor -faktor dalam kehidupan pribadi
individu tidak dapat lepas dari lingkungan kerja dimana ia bekerja.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa timbulnya
stres kerja dapat ditimbulkan oleh kondisi kerja, konflik peran, faktor
interpersonal, pengembangan karir, konflik peran ganda, dukungan suami, harga
diri, self efikasi, personal kontrol, stereotiype gender, komitmen, motivasi,
tanggung jawab, karyawan minoritas, struktur dan budaya organisasi, serta
jaringan bisnis. Pada penelitian ini difokuskan pada pengaruh konflik pe ran ganda
karyawati (ibu) dan persepsi pengembangan karir dengan stres kerja yang terjadi
pada karyawati.
3. Aspek-aspek Stres Kerja.
Lingkungan kerja dapat mengakibatkan stres yang positif atau
menguntungkan bagi individu yang mengalaminya dan juga dapat mengakibatkan
dampak negatif atau merugikan bagi yang mengalaminya. Semua itu tergantung
dari individu yang mengalaminya, karena stres mempunyai pengaruh berbeda-
beda pada diri seseorang dan tida k semua orang sama kondisinya jika mengalami
stres.
Menurut Shultz dan Shultz (1994) dan Robbins (2004) aspek-aspek stres
kerja meliputi:
a. Deviasi fisikologis.
Deviasi fisikologis dapat dilihat pada orang yang terkena stres antara lain
adalah sakit kepala, pusing, pening, tidak tidur teratur, susah tidur, bangun
terlalu awal, sakit punggung, susah buang air besar, sembelit, gatal gatal
pada kulit, tegang, pencernaan terganggu, tekanan darah naik atau
serangan jantung, keringat berlebihan, selera makan berubah, lelah atau
kehilangan daya energi, kesalahan atau kekeliruan dalam kerja, gugup,
mudah luka, gangguan pernafasan, migrain, dan ketegangan otot.
b. Deviasi psikologis.
Deviasi psikologis mencakup (sedih, depresi, mudah menangis, hati
merana, mudah marah, dan panas, gelisah, cemas, rasa harga diri menurun,
merasa tidak aman, terlalu peka, mudah tersinggung, marah-marah, mudah
menyerang, bermusuhan dengan orang lain, tegang, bingung, meredam
perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, mengasingkan diri,
kebosanan, ketidakpuasan kerja, lelah mental, kehilangan spotanitas dan
kreativitas, dan kehilangan semangat hidup).
c. Deviasi perilaku.
Deviasi perilaku mencakup mencakup (kehilangan kepercayaan kepada
orang lain, mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji
atau tidak memenuhi janji, suka mencari kesalahan orang lain atau
menyerang orang lain, terlalu membentengi atau mempertahankan diri,
meningkatkan penggunaan minuman keras dan mabuk, sabotase,
meningkatmya agresivitas dan kriminilitas).
Mahfud (1999) lebih rinci menjelaskan bahwa stres dapat menimbulkan
ganguan emosional, ganguan fungsi berpikir, gangguan aktivitas fisiologis, dan
gangguan sosial.
a. Gangguan emosional, yaitu ada tidaknya simptom stres berupa perasaan
cemas, gelisah, sedih, depresi, marah, gugup, atau perasaan bersalah.
Emosi stres yang paling sering terjadi adalah kecemasan dan depresi yang
ditandai dengan perasaan takut, cemas, gelisah, pesimis, merasa tidak
berguna, dan kelelahan yang sangat.
b. Gangguan fungsi berpikir, yaitu ada tidaknya gangguan pada kemampuan
berpikir yang berupa konsentrasi, pemikiran yang negatif, ingatan, dan
gangguan mimpi buruk.
c. Gangguan aktivitas fisiologis, terbagi dalam dua kelompok yaitu :
1) Skeletal muscle symptoms, meliputi sakit kepala, mulut terasa kering,
perasaan tegang dan gugup, tubuh terasa lemas, dada terasa nyeri, serta
perasaan goyah.
2) Symptoms of visceral (simptom organ dalam), seperti tangan dan kaki
dingin, kehilangan gairah seksual, jantung berdebar-debar, nafas terasa
sesak, perut terasa mual, kejang-kejang, dan tangan bergetar.
d. Gangguan sosial. Stres selain terwujud dalam berbagai macam penyakit,
dapat pula terungkap dalam ketidakmampuan seseorang untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa stres kerja
dapat berpengaruh pada ganguan fisioligis , psikologis, dan perilaku individu.
Untuk masing-masing individu tidak memiliki reaksi yang sama terhadap
timbulnya stres kerja.
A. Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat
Variabel Terikat dalam penelitian ini ialah stres kerja
2. Variabel Bebas
Variabel Bebas dalam penelitian ini adalah :
a. Konflik peran ganda
b. Pengembangan karir
B. Definisi Operasional
1. Stres Kerja
Stres kerja merupakan dampak negatif dari tuntutan pekerjaan berupa
diviasi fisikologis, deviasi psikologis, dan deviasi perilaku yang dialami
karyawan. Adapun aspek-aspek stres kerja yang dikembangkan dalam penelitian
ini berdasarkan teori Robbins (2004) dan Schultz dan Schultz (1994) yang
meliputi diviasi fisikologis, deviasi psikologis, dan deviasi perilaku. Stres kerja
individu ditunjukkan oleh skor subjek penelitian, semakin tinggi skor yang
diperoleh subjek penelitian berarti semakin tinggi stres kerja yang di alami
karyawan. Kemudian semakin rendah skor yang diperoleh subjek penelitian
berarti semakin rendah stres kerja yang di alami karyawan. Selain itu penentuan
gangguan stres yang di alami oleh individu adalah dengan melihat deviasi stres
yang dominan dalam diri individu yang ditunjukkan oleh skor atau nilai tertinggi.
D. Metode Pengmpulan Data
Metode pengum pulam data yang dimaksud pada penelitian ini adalah
menggunakan data pribadi subjek dan alat pengukuran atau instrumen. Alat
pengukuran atau instrumen yang digunakan ada tiga macam, yaitu alat ukur stress
kerja, pengembangan karir, dan konflik peran ganda. Skala pengukuran tersebut
diuraikan sebagai berikut :
1. Stres Kerja
Alat ukur stres kerja merupakan pengembangan dari teori Robbins (2004)
yang terdiri dari gangguan psikologis, gangguan fisiologis, dan perilaku. Skala
stres kerja disusun mengacu kepada skala Likert dengan empat jenjang penelitian
yaitu STS (sangat tidak sesuai), TS (tidak sesuai), S (sesuai), dan SS (sangat
sesuai). Penilaian penelitian ini bergerak dari empat sampai satu. Untuk aitem
yang favorable, nilai empat diartikan sangat sesuai, nilai tiga diartikan sesuai, nilai
dua diartikan tidak sesuai, dan nilai satu diartikan sangat tidak sesuai. Untuk nilai
unfavorable nilai empat diartikan sangat tidak sesuai, nilai tiga diartikan tidak
sesuai, nila i dua sesuai, dan nilai satu diartikan sangat sesuai.
Nilai yang diperoleh subjek menunjukkan tingkat stres kerja yang dimiliki,
semakin tinggi skor yang diperoleh, berarti semakin tinggi pula stres kerja yang
dialami subjek. Begitupun sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh
subyek, semakin rendah pula tingkat stres kerja yang dialami subjek. Adapun
sebaran aitem stres kerja dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Sebaran Item Skala Stres Kerja
Aspek-aspek Nomor Item
No Jumlah
Stres Kerja Favourable Unfavourable
1 Fisiologis 1, 7, 13, 19, 25, 31 4, 10, 16, 22, 28, 34 12
2 Psikologis 2, 8, 14, 20, 26, 32 5, 11, 17, 23, 29, 35 12
3 Perilaku 3, 9, 15, 21, 27, 33 6, 12, 18, 24, 30, 36 12
Total 18 18 36
E. Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas alat ukur bertujuan untuk mengetahui sejauhmana skala yang
digunakan mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya
(Azwar, 2004). Uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah validitas
isi (content validity), validitas butir, dan validitas konstruksi teoritis (construct
validity). Validitas isi ditentukan melalui pendapat profesional dalam telaah
aitem dengan menggunakan spesifikasi tes yang telah ada. Validitas butir
bertujuan untuk mengetahui apakah butir atau aitem yang digunakan baik atau
tidak, yang dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir total. Sedangkan
validitas konstruksi teoritis bertujuan untuk mengetahui apakah skor hasil alat
ukur mampu merefleksikan konstruksi teoritis yang mendasari penyusunan alat
ukur. Uji validitas ini dilakukan dengan analisis faktor.
Adapun reliabilitas menunjukkan konsistensi atau keterpercayaan hasil
pengukuran suatu alat ukur. Hal ini ditunjukkan konsistensi skor yang diperoleh
subjek yang diukur dengan alat yang sama (Azwar, 2004; Suryabrata, 2002).
Reliabilitas dinyatakan dalam koefisien reliabilitas, dengan angka antara 0
sampai 1,00. Semakin tinggi koefisien mendekati angka 1,00 berarti reliabilitas
alat ukur semakin tinggi. Sebaliknya alat ukur yang rendah ditandai oleh
koefisien reliabilitas yang mendekati angka 0 (Azwar, 2004).
Uji reliabilitas dilakukan dengan konsistensi internal yaitu dengan
menggunakan teknik Alpha Cronbach. Alasan penggunaan teknik Alpha
Cronbach karena dapat digunakan untuk menguji skala ataupun tes dengan
tingkat kesukaran yang seimbang atau hampir seimbang dan dapat digunakan
untuk butir-butir dikotomi atau nirdikotomi (Hadi, 2004).
F. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Skala Stres Kerja
Skala stres kerja terdiri dari 36 butir dan terbagi dalam 3 faktor. Hasil
analisis butir berdasarkan Modul Uji Kesahihan Butir menunjukkan bahwa
terdapat 16 butir yang gugur.
Nama Konstrak : Stres Kerja
Nama Faktor 1 : Fisiologis
Nama Faktor 2 : Psikologis
Nama Faktor 3 : Perilaku
Tabel 4. Rangkuman Analisis Kesahihan Butir (N = 90)
rbt sahih p butir sahih
Jumlah Jumlah Butir Jumlah
Faktor terendah - tertinggi -
Butir Awal Gugur Butir Sahih
tertinggi terendah
1 12 6 6 0.179 – 0.526 0.044 – 0.000
2 12 6 6 0.227 – 0.378 0.015 – 0.000
3 12 4 8 0.312 – 0.528 0.002 – 0.000
Uji keandalan yang dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach’s
menunjukkan bahwa semua faktor andal dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5. Rangkuman Analisis Keandalan Instrumen
Jumlah Butir Koef. Keandalan
Faktor p Status
Sahih (rtt)
1 6 0.630 0.000 Andal
2 6 0.581 0.000 Andal
3 8 0.710 0.000 Andal
Hasil uji kesahihan faktor-faktor konstrak diketahui bahwa semua faktor
adalah sahih. Selengkapnya tercantum dalam Tabel 6.
Tabel 6. Rangkuman Analisis Kesahihan Faktor
Jumlah Koef. Kesahihan Sumbangan
Faktor p Status
Butir Sahih (rbt) Efektif
1 6 0.413 0.000 Sahih 31.791
2 6 0.469 0.000 Sahih 27.924
3 8 0.295 0.002 Sahih 40.285
G. Tek nik Analisis Data
Data yang diperoleh dari subjek penelitian yaitu: stres kerja, konflik peran
ganda, dan pengembangan karir akan dianlisis dengan menggunakan analisis
statistik regresi. Analisis ini digunakan mengingat data yang diperoleh dari ketiga
alat ukur ini berbentuk angka-angka yang merupakan data kuantitatif. Data yang
berupa angka ini memerlukan pengolahan yang lebih lanjut agar memiliki makna
dan manfaat yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi
yang meliputi: uji normalitas sebaran, dan uji linieritas hubungan. Untuk
menganalisis hipotesis mengenai hubungan antara stres kerja , konflik peran
ganda, dan pengembangan karir karyawan. Teknik analisis data yang akan
digunakan adalah analisis regresi. Teknik ini digunakan untuk mencari korelasi
dua atau lebih variabel bebas (X) atau disebut dengan prediktor dengan variabel
terikat (Y) yang disebut kriterium (Hadi, 2004). Analisis regresi ini digunakan
untuk mencari korelasi antara stres kerja , konflik peran ganda, dan
pengembangan karir karyawan. Perhitungan analisis data dilakukan dengan
menggunakan bantuan paket Seri Progr am Statistik (SPS) versi 2000 Edisi
Sutrisno Hadi.
Tabel 18 . Kategorisasi Skor Skala Stres Kerja
Kategori Rentang Skor Frekuensi Persentase %
Sangat tinggi 73.5 - 80.5 1 1.11
Tinggi 66.5 - 73.5 11 12.22
Sedang 59.5 - 66.5 30 33.33
Rendah 52.5 - 59.5 40 44.44
Sangat rendah 45.5 - 52.5 8 8.89
Berdasarkan kategorisasi pada tabel 18, maka terdapat 1 karyawati
(1.11%) yang memiliki stres sangat tinggi, 11 karyawati (12.22%) yang memiliki
stres tinggi, 30 karyawati (33.33%) yang memiliki stres sedang, 40 karyawati
(44.44) yang memiliki stres rendah, dan 8 karyawati (8.89%) yang memiliki stres
sangat rendah di PT. Apac Inti Coorpora Semarang.
Pada skala konflik peran ganda yang dialami para karyawati PT. Apac Inti
Coorpora Semarang dikategorikan sangat tinggi karena rerata empirik (45.789)
lebih tinggi dari rerata hipotetik (39.000) dengan Z = 12.092, dan p = 0.000.
Berikut sebaran frekuensi datanya.
B. Pembahasan
Hasil penelitian ini membuktikan terdapat korelasi yang sangat signifikan
antara konflik peran ganda dan pengembangan karir dengan stres kerja dengan F =
10.667, R2 = 0.197, dan p = 0.000. Kemudian dari hasil analisis regresi bertahap
didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara konflik
peran ganda dengan stres kerja dengan r-parsial = 0.426 dan p = 0.000. Begitupun
juga halnya dengan pengembangan karir dengan stres kerja terdapat hubungan
yang signifikan dengan r-parsial = 0.186 dan p = 0.038.
Sumbangan efektif terbesar disumbangkan variabel konflik peran ganda
sebesar 16.801 persen, sedangkan pengembangan karir memberikan sumbangan
efektif sebesar2.892 persen. Hal ini bermakna terdapat 80.307 persen faktor -faktor
yang lain yang mempengaruhi stres kerja karyawati PT. Apac Inti Corpora
Semarang seperti kondisi kerja, hubungan interpersonal dalam pekerjaan,
ambiguitas dalam menempatkan p eran, stereotype gender, komitmen, motivasi,
dan tanggung jawab, karyawan minoritas, struktur dan budaya organisasi, jaringan
bisnis, harga diri, self efikasi, personal kontrol, dukungan suami, serta latar
belakng kehidupan yang dialami oleh setiap subyek (Erita, 2001; Nelson dan
Burke, 2002; Robins, 2004; Lambert, et al., 2004).
Menurut Sarafino (1997) stres merupakan suatu keadaan yang dihasilkan
ketika manusia dan lingkungan bertransaksi - baik nyata atau tidak nyata – antara
tuntutan situasi dan sumber-sumber yang dimiliki manusia, menyangkut kondisi
biologis, psikologis atau sosial, dan hal ini akan sangat mempengaruhi tingkat
stress kerja yang dialami oleh tiap individu.
Ketika seorang mengalami stres maka tubuh akan merespon dengan
berbagai manifestasi seperti reaksi fisiologis (seperti detak jantung semakin
meningkat, pusing, mulut terasa kering, lambung terasa mual, nafas terasa sesak
dan lain sebagainya), emosional (tagang, khawatir, mudah marah, merasa tertekan
dan lain sebagainya), dan kognitif (daya berfikir kurang, daya ingat menurun, sulit
berkonsentrasi) (Hawari, 1996).
Lebih lanjut dikatakan Phinney dan Haas (2003) bahwa individu akan
melakukan coping yaitu suatu proses serta usaha untuk merubah kognitif atau
perilaku secara konstan untuk mengatur tuntutan-tuntutan eksternal maupun
internal khususnya yang akan diperkirakan akan membebani dan melampaui
kemampuan individu serta sebagai respon seseorang terhadap situasi yang
menyebabkan stres tersebut.
Taylor (2003) menambahkan bahwa perilaku coping yang dilakukan
individu tersebut merupakan pengaturan terhadap tuntutan eksternal dan internal
yang berusaha menguasai, menerima, melemahkan atau memperkecil masalah
yang dihadapi.
Terdapatnya hubungan positif dan signifikan antara konflik peran ganda
dengan stres kerja karyawati hal ini menandakan bahwa konflik kerja dan konflik
peran dalam rumah tangga dapat menyebabkan wanita atau istri lebih rentan
terkena stres dibading suami atau pria Lambert, et al., (2004).
Hal ini diperkuat dari hasil penelitiannya Broadbridge, et al., (1999) yang
membutkitkan bahwa konflik peran ganda pada seorang istri dapat berakibat
positif dan negative. Secara positif peran ganda dapat dipandang saling
melengkapi kebutuhan ekonomi dan mengasuh anak, sedangkan secara negatif
peran ganda dipandang dapat menimbulkan konflik, menghilangnya kesadaran,
munculnya persepsi overload, dan stres yang mengarah pada ketegangan dan
kelelahan kerja.
Hasil penelitian lain membuktikan bahwa para istri lebih rentan
mengalami konflik pada tingkat keluarga dan pekerjaan. Pada tingkat keluarga
istri yang ingin berkarir mengalami konflik dengan suaminya mengenai perannya
sebagai ibu dan pada tingkat organisasi konflik muncul antar karyawan karena
laki-laki merasa bahwa perempuan tempatnya dirumah (Gowan, 1998).
Hasil penelitian Dancer (1993) menunjukkan bahwa dalam struktur
keluarga yang dual-career, para istri memandang dirinya lebih banyak melakukan
pekerjaan domestik rumah tangga daripada suami mereka sehingga terjadi
ketidakseimbangan pembagian peran dalam rumah tangga. Keluarga dengan
struktur tradisional, baik suami dan istri, justru memandang dirinya dan suaminya
telah melakukan pembagian peran yang adil dalam rumah tangga. Hal ini
nampaknya dikarenakan tanggung jawab dari aktivitas yang dilakukan sesuai
dengan nilai-nilai normatif dimana istri menjadi full-time homeworker sedangkan
suami lebih berorientasi karir. Hal tersebut dikarenakan budaya dan norma yang
berkembang di masyarakat bahwa perempuan harus dapat mengerjakan pekerjaan
perempuan.
Berdasarkan hal di atas dapat dikatakan bahwa bila individu (karyawati)
bila dapat menjalankan perannya seba gai karyawati dan ibu rumah tangga maka ia
dapat menekan stres yang akan dialami, akan tetapi bila individu tersebut tidak
dapat meradam konflik peran ganda yang terjadi ia akan mengalami stres kerja
negatif yang berupa ganguan psikologis, ganguan fisiologis, dan ganguan perilaku.
Kemudian antara pengembangan karir dengan stres kerja terdapat korelasi
yang positif dan signifikan. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Leila (2002)
bahwa semakin tinggi karir seseorang dalam pekerjaanya seperti manajer atau
supervisor maka individu tersebut akan lebih sibuk bekerja dan dibebebani
pekerjaan yang memerlukan dengan segera, selain itu sebagai supervisor sering
kali terjadi benturan antara dua tuntutan yang berbeda, disatu pihak ia harus
memperhatikan penyelesaian tugas yang berbatas waktu dan dilain pihak ia harus
juga memperhatikan pembinaan hubungan baik dengan bawahan -bawahannya dan
hal ini menyebabkan stres kerja yang tinggi pada supervisor tersebut.
Pendapat di atas didukung dengan karakter responden penelitian ini yang
lebih didominasi oleh staff atau officer dan sesuai dengan hasil uji deskriptif
bahwa semakin rendah karir seorang karyawati maka semain rendah dampak stres
yang diterimanya. Hal ini juga mungkin disebabkan oleh tingkat pendidikan
sebagian repsonden yang lebih didominasi oleh lulusan sekolah menengah umum
dan diploma yang artinya mereka tidak terlalu mengejar karir akan tetapi hanya
bekerja hanya untuk membantu perekonomian keluarga. Sela in itu pada hasil uji
deksriptif didapatkan bahwa rata -rata karyawati mengalami stres kerja yang
rendah dan hal ini perlu ditingkatkan pada situasi tertentu agar kinerja karyawan
meningkat
Hal di atas sesuai dengan pendapat Helms-Erikson, dkk (2000) yang
mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan seorang istri (karyawati) hanya
bertujuan sebagai pencari nafkah tambahan yang artinya pendapatan mereka dapat
membantu keuangan keluarga tetapi mereka tetap memandang suami mereka
sebagai pencari nafkah utama (primary profider).
Hoffman dan Nye (1994) menambahkan bahwa dampak positif dari
seorang istri (karyawati) yang bekerja adalah dapat meningkatkan taraf hidup
keluarga dan menambah penghasilan suami, m engembangkan cara berpikir lebih
luas karena selalu berhubungan dengan orang lain, dan dapat meningkatkan
kepercayaan diri dan harga diri karena merasa berguna dan dibutuhkan.
Lebih lanjut menurut Rini (2001) bahwa pada wanita yang bekerja akan
menunjukkan tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan
wanita yang tidak bekerja dan hal ini menyebabkan wanita (karyawati) tersebut
lebih tidak rentan terkena stres dibanding wanita yang tidak bekerja.
Semua orang pernah mengalami stres akan tetapi tingkat gangguannya
berbeda -beda. Menurut Hasan (2007) terkadang orang tidak menyadari bahwa
dirinya mengalami stres akan tetapi pada kenyataan individu tersebut mengalami
stres walaupaun kadarnya rendah seperti kelelahan, rambut rontok, kulit kusam,
insomnia (gangguan tidur), gangguan siklus menstruasi, gairah seks yang rendah,
juga jarangnya mencapai orgasme saat hubungan intim. Bila ganguan stres ringan
ini tidak segera disadari maka inidividu tersebut akan mengalami depresi atau
ganguan stres berat seperti psikotik, skizofrenia, depresi berat, dan paranoid.
Lebih lanjut menurut Santrock (2002) akibat dari perlakukan diskriminasi,
budaya, dan kemiskinan yang menimpa masyarakat maka dapat dikatakan bahwa
individu akan lebih rentan mengalami stres baik bagi dirinya dan kelurga.
Santrock menambahkan bahwa pemukiman yang tidak memadai, lingkungan yang
berbahaya, tanggung jawab yang berat, dan ketidakpastian keadaan ekonomi
merupaka stresor yang kuat dalam kehidupan warga masyarakat sekitar.
Pada akhirnya Beehr (1995) menyebutkan bahwa dengan meningkatnya
tekanan terhadap pekerjaan karena kurangnya kebebasan, adanya perasaan tidak
aman akan masa depan, tugas yang semakin bertambah (overload), adanya
konflik-konflik dan tuntutan psikologis terhadap pekerjaan dapat menjadi pemicu
timbulnya stres di kalangan karyawan. Di sisi yang lain bahwa terjadinya stres
bisa dikarenakan reaksi badan kurang kuat atau lemah untuk menerima reaksi
adaptif yang kacau atau negatif dari badan kita. Tingkat stres kerja ini akan
semakin tinggi apabila karyawan mendapatkan beban kerja atau tambahan tugas
yang berbeda tanpa mendapat pelatihan sebelumnya dan jaminan perawatan
kesehatan dari perusahaan tempat karyawan bekerja (Minter, 1999).
DAFTAR PUSTAKA
Abraham, C., & Stanley, E., (1997). Psikologi Sosial Untuk Perawat Kedokteran,
Jakarta : Penerbit buku kedokteran WGC.
Alessandra, R., (2002). Title deer Studies: Academic dual-career couples in the
U.S. Review of the North American Social Research. Jungle Academia.
Ancok, D., (1991). Pesona Wanita Tahun 2000: Cantik, Anggun, Taqwa, Kiat
Apa yang Perlu Dilakukan? Makalah Seminar. Jogjakar ta: Sekolah
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Fakultas Psikologi.
Azwar, S. , (2004). Reliabilitas dan Validitas. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Beehr, T.A., (1995). Psychological Stress in Work Place. London: Rutledge.
Bernard & Russel., (1998). Human Resource Management. edisi 2. McGraw-Hill
International Edition
Broadbridge, A., Swarson, V., & Taylor, C., (1999). The Implications of Retail
Changes on Employees’ Job Demands, Satisfactions, and the Work/Home
Interface. Institute for Retail Studies.
http://www.marketing.stir.ac.uk/irs/9903.pdf.
Blustein, D.L., Schulteiss, D.E.P., & Flum, H., (2004). Toward a relational
Perspective of the P sychology of Careers and Working: a Social
Constructionist Analysis. Journal of Vocational Behavior. 64, (2), 423–
440.
Carlson, D.W., & Perrewe, P.L., (1999). The Role of Social Support in the
Stressor-Strain Relationship: An Examination of Work-Family Conflict.
Journal of Management. 25, (4), 513–540.
Cascio, W.F., (2002). Applied Psychology in personnel Management (Six
Edition). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall
Chaterine, W.N.G., Fosh, H., & Naylor, D., (2002). Work-Family Conflict for
Employees in East Asian Airline: Impact on Career and Relationship to
Gender. Economic and Industrial Democracy. 23, (1), 67-105.
Cummings, E.M., Emery, R.E., & Fincham, F.D., (1992). Parenting in Context:
Systemic Thinking About Parental Conflict and Its Influence on Children.
Journal of Consulting and Clinical Psychology, 60, (6), 909-912.
Dancer, L.S. (1993). Spouses’ Family Work Participations and Its Relation to
Wife’s’ Occupational Level. Sex Roles: A Journal of Research . 23, (3),
198- 201.
Davis, K, & Newstron.J.W. (1992). Perilaku Dalam Organisasi. Jakarta:
Erlangga.
Delery, J.E & Doty, W.H.1996. Modes of theorizing in strategic human resource
management: test of universalistic, contingency, and configurationally
performance predictions. Academy of management journal, 39, (4), 802-
835.
Diemer, M.A., & Blustein, D.L., (2005). Critical consciousness and career
development among urban youth. Journal of Vocational Behavior. 68, (2),
220 – 232.
Discovery Health. com, www.bd diabetes.com/us/down Loa d/9a-stress-eng.pdf,
2004.
Erita Y.D., (2001). Kontribusi Stres pada Produktifitas Kerja di Yogyakarta.
Jurnal Psikologi, no IV.
Gelles, R.J. (1995). Contemporary Families; a Sociological View . London: SAGE
Publications.
Greenglass, E., Fiksenbaum, L., & Eaton, J., (2006). The Relationship between
Coping, Social Support, Functional Disability and Depression in the
elderly. Journal Routledge Taylor and Francis Group. March; 19, (1), 15
- 31.
Gowan, M., (1998). An Examination of Gender Differences in Mexican -American
Attitude s toward Family and Career Roles. Sex Roles: A Journal of
Research, 23, (5),133-154.
Hadi, S. , (2004)a. Metodologi Research I. Jogjakarta: Andi Offset.
_______., (2004)b. Metodologi Research II. Jogjakarta: Andi Offset.
Hadipranata, F., (2004). Handout Mata Kuliah Organizational Behavior.
Program Magister Manajemen. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Haditono, S.R., (1998). Wanita Sebagai Karyawati. Media KORPRI DIY, 5, Th.II.
Handoko, T.H., & Reksohadiprodjo, S., (2001). Organisasi Perusahaan. Teori
Struktur dan perilaku. Jilid 2. BPFE-Yogyakarta.
Hall, D.M. (1993). Manajemen Praktis. Erlangga, Jakarta.
Hasan, Z. (2007). Akibat Beban Ganda perempuan Lebih Rentan Stres. Artikel.
Koran Pikiran Rakyat Minggu 08 April 2007.
Hawari, D., (1996). Al Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa . Dana
hakti Prima Yasa, Jakarta.
HealthToday. (2003). Wanita Karir di Masa Datang. Jakarta: Info Master.
Helms-Erikson, H., Tanner, J.L., Crouter, A.C., & McHale, S.M. 2000. Do
Women’s Provide-Role Attitudes Moderate the Links between Work and
Family? Journal of Family Psychology, 14, (4), 658-670.
http://www.uncg.edu/hdf/hdfs_faculty/h_helms/JFP%202000.pdf.
Hoffman, L.W & Nye, F.I. 1994. Working Mother. San Francisco: Josey Bass.
Hyung, S.O., & Batra, R.C., (1999). Locations of Optimal Stress Points in Higher-
Order Elements. Communications in Numerical Methods in Engineering.
15, (4), 127-136.
Jex.S.M., Beehr,T.A., & Roberts, C.K., (1999). The Meaning of Occupational
Stress Items to Survey Respondents. Journal of Applied Psychology. 77,
(5), 623-628.
Kompas, (17 Juli 2004). Hari Buruh Sedunia. Artikel. Jakarta
Lambert, E.G., Hogan, N.L., & Bartosn, S.M. (2004). The Nature-of Family
Conflict Among Correlation Staff: An Explanatory Examination. Criminal
Justice Review. 16, (1), 145-172.
Leila, G. (2002). Stres dan Kepuasan Kerja. USU Digital Library.
Leigh, J.H., Lucas, G.H., & Woodman, R.W. (1992). Effect of Perceived
Organizational Factor on Role Stress-Job Attitude Relationship. Journal
of Management. 14, (1), 41-58.
Luthans., (1998). Organizational Behavior. New York: Mc Graw-Hill Books
Company.
Mahfud, A., (1999). Petunjuk Mengatasi Stres. Bandung: Sinar Baru, Algensindo.
Maier, G. (2002). Career Ladders: An Important Element in CNA Retention.
Geriatric Nursing, 23, (4), 243-258.
Maramis, W.F. , (1998). Ilmu kedokteran jiwa . Surabaya: Airlangga University
Press.
Michigan Department of Career Development., (2002). Work keys: The Language
for Building a Career Development System. Paper.
Miner, J.B., (2002). Industrial-Organizational Psychological. New York: Mc
Graw-Hill inc.
Minter, S.G., (1999). Too Much Stress? Occupational Harvard. 6, (5), 49-52.
Munandar, A.S., (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI-Press.
National Multicultural Institute Publications. (2000). Cultural Influences on
Conflict.
Nelson, D.L., & Burke, J. (2002). Gender Work Stress and Health . American
Psychological Association. United States of America.
Noe, R.A., Hollenbeck, J.R., Gerhart, B., & Wright, P.M. (1994). Human
Resource Management: Gaining a Competitive Advantage. Illinois:
Austen Press.
Pervin, L.A., & John, O.P. (1999). Handbook of Personality, 2nd end, NY:
Guilford Press
Phinney. J.S. & Haas. K., (2003). The process of Coping Among Ethnic Minority
First-Generation College Freshmen: A Narrative Approach. Journal of
Personality and Social Psychology. 143, (6), 707-726.
Prince, J.B., (2003). Career Opportunity and Organizational Attachment in a Blue-
Collar Unionized Environment. Journal of Vocational Behavior. 63, (1),
136 – 150
Rini, F., (2002). Stress Kerja. Team-e psikologi.com.
http://www.e-psikologi.com/masalah/stress.htm
Robbins, S.P., (2004). Teori Organisasi, Stuktur, Desain, dan Aplikasi. (Alih
bahasa: Tim Indeks). New Jersey: Prentice Hall.
Santrock J.W., (2002). Life-Span Development (edisi terjemah). Erlangga. Jakarta.
Samsudin, S., (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia
Bandung.
Sarafino, E.P., (1997). Health Psychology Biopsychosocial Interactions, Third
Edition, John Wiley dan Sons Inc., New York.
Schunarman, A.M., (2001). Marital Quality in Dual-Career Couples: Impact of
Role Overload and Coping Resources. Dissertation. Faculty of the
Virginia Polytechnic Institute and State University
Sekaran, U., (1986). Dual-Carier Families. San Fransisco: Josey bass publisher.
Pestonje, D.M. 1992. Stress -Coping. India sage.
Shultz, D.P., & Shultz, S.E., (1994). Industrial and Organizational. Psychology at
Work Today’s
Smett, B., (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia.
Solso, R.L., (1998), Cognitive Psychology, Five Editions, Boston: Allyn & Bacon.
Sonnentag, S. (2000). Excellent performance: The Role of Communication and
Cooperation Process. Journal Applied Psychology: an International
Review. 49, (3), 483 -497.
Suartini, L., & Pursika, I.N. (2006). Menyeruak Ketimpangan Gender:
Determinasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasl Politik Wanita
di Bali.
Suryabrata., S. (2002). Pengembangan Alat Ukur Psikologi, Yogyakarta: Andi
Ofset.
Taylor, S.E. (2003). Health Psychology, International Editio n. Singapore:
McGraw -Hill Book Co.
The Association for Counselor Education and Supervision (ACES) and The
National Career Development Association (NCDA). (2000). Preparing
Counselors for Career Development in the New Millennium. Aces/Ncda
Position Paper.
The Buzz A Financial Services Employee Newsletter. (2004). Career Development
Opportunity Program. University Of California at Berkeley. 1, (1), 102-
121.
Voydanoff, P., (2005). Work Demands and Work-to-Family and Family -to-Work
Conflict: Direct and Indirect Relationships. Journal of Family Issues. 26,
(6), 707-726.
Winkel, W.S. (1997). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan . (edisi
Rev). Jakarta : PT Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar