bams sank pengelana

Selamat datang di Bams MAnajemen 09.

bams manajemen loo

BAms Sank Pengelana

BLOG BAMS

BAms Sank Pengelana

Pelantikan Koms

BAms Sank Pengelana

BLOG BAMS

BAms Sank Pengelana

Teater nusantara el hatta

BAms Sank Pengelana

MAPABA

BAms Sank Pengelana.

Kamis, 01 Desember 2011

MAKALAH Ekonomi Islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembicaraan tentang ekonomi Islam merupakan suatu hal yang sangat menarik dalam decade terakhir ini. Kemunculan ekonomi Islam dipandang sebagai sebuah gerakan baru disertai dengan misi dekonstruktif atas kegagalan sistem ekonomi dunia yang dominan selama ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dunia yang semakin rumit. Pada hakikatnya ekonomi Islam adalah metamorphosis nilai-nilai Islam dalam ekonomi dan dimaksudkan untuk menepis anggapan bahwa Islam adalah agama yang hanya mengatur persoalan ubudiyah atau komunikasi vertical antara manusia (makhluk) dengan Allah (Khaliq)nya. Dengan kata lain, kemunculan ekonomi Islam merupakan satu bentuk artikulasi sosiologis dan praktis dari nilai-nilai Islam yang selama ini dipandang doktriner dan normatif. Dengan demikian, Islam adalah suatu dien (way of life) yang praktis dan ajarannya tidak hanya merupakan aturan hidup yang menyangkut aspek ibadah dan muamalah sekaligus, mengatur hubungan manusia dengan rabb-Nya dan hubungan antara manusia dengan manusia. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah di ungkapkan di atas dapat di buat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana historis dan ideologi sistem perekonomian suatu negara? 2. Bagaimana letak dan kondisi geografi? 3. Bagaimana tingkat pembangunan, keterbukaan dan sistem politik yang dijalankan? C. Tujuan Penulisan Sesuai rumusan masalah di atas, maka pemakalah mengemukakan tujuan dari penulis ini antara lain adalah untuk: 1. Untuk mengetahui tentang historis dan ideologi. 2. Untuk mengetahui letak dan kondisi georafi. 3. Untuk mengetahui tingkat pembangunan, keterbukaan dan sistem politik yang dijalankan. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Sistem Ekonomi Menurut Dumairy (1996) , Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Sebuah sistem ekonomi terdiri atas unsure-unsur manusia dengan subjek; barang-barang ekonomi sebagai objek; serta alat kelembagaan yang mengatur dan menjalinnya dalam kegiatan ekonomi. B. Jenis-jenis Sistem Ekonomi Secara garis besar, di dunia ini pernah dikenal dua macam sistem ekonomi, yakni: sistem ekonomi liberal atau kapitalis; sistem ekonomi sosialis. 1. Sistem Ekonomi Kapitalisme Sistem ekonomi kapitalis mengakui pemilikan individual atas sumber daya-sumber daya ekonomi atau faktor-faktor produksi. Setidak-tidaknya, terdapat keleluasaan yang sangat longgar bagi orang perorangan dalam atau untuk memiliki sumber daya. Kompetisi antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidup, persaingan antarbadan usahan dalam meraih keuntungan, sangat dihargai. Tidak ada batasan atau kekangan bagi orang perorangan dalam menerima imbalan atas prestasi kerjanya. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh sistem ekonomi kapitalis adalah “setiap orang menerima imbalan berdasarkan prestasi kerjanya”. Campur tangan pemerintah dalam sistem ekonomi kapitalis sangat minim. Pemerintah lebih berkedudukan sebagai “pengamat” dan “pelindung” perekonomian. Sistem kapitalis sebagai pengganti sistem komunis memberikan dampak yang sangat buruk bagi perkembangan perekonomian dunia. Kapitalis berasal dari kata capital, secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘modal’. Didalam sistem kapitalis, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemilik modal, dimana dalam perekonomian modern pemilik modal dalam suatu perusahaan merupakan para pemegang saham. Pemegang saham sebagai pemegang kekuasaan tertinggi disebuah perusahaan akan melimpahkan kekuasaan tersebut kepada top manajemen yang diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tidak jarang dalam suatu perusahaan pemegang saham terbesar atau mayoritas dapat merangkap sebagai top manajemen. Hal ini secara tidak lansung akan meyebabkan top manajemen bekerja untuk kepentingan pemegang saham dan bukan untuk kepentingan karyawan atau buruh yang juga merupakan bagian dari perusahaan, karena mereka diangkat dan diberhentikan oleh pemegang saham melalui RUPS. Kapitalisme dapat dikatakan memiliki lima ciri-ciri menonjol dibawah ini : a) Ia menganggap ekspansi kekayaan yang dipercepat dan produksi yang maksimal serta pemenuhan “keinginan” (want) menurut preferensi individual sebagai sangat esensial bagi kesejahteraan manusia. b) Ia menganggap bahwa kebebasan individu yang tak terhambat dalam mengaktualisasikan kepentingan diri sendiri dan kepemelikan atau pengelolaan kekayaan pribadi sebagai suatu hal yang sangat penting bagi inisiatif individu. c) Ia berasumsi bahwa inisiatif individual ditambah dengan pembuatan keputusan yang terdesentralisasi dalam suatu pasar kompetitif sebagai syarat untuk mewujudkan efisiensi optimum dalam alokasi sumber daya. d) Ia tidak mengakui pentingnya peran pemerintah atau penilaian kolektif, baik dalam efisiensi alokatif maupun pemerataan distributive. e) Ia mengklaim bahwa melayani kepentingan diri sendiri (self interest) oleh setiap individu secara otomatis melayani kepentingan sosial kolektif. Dalam sistem perokonomian ini juga terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari sistem kapitalisme : a. Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang. b. Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya. c. Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil. Kelemahan dari sistem kapitalisme : a. Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik. b. Sistem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain). 2. Sistem Ekonomi Sosialisme. Dalam sistem ekonomi sosialis, sumber daya ekonomi atau factor produksi diklaim sebagai milik negara. Sistem ini lebih menekankan pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memaukan perekonomian. Imbalan yang diterima berdasarkan pada kebutuhannya, bukan berdasarkan asa yang dicurahkan. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh sistem ekonomi sosialis ialah “setiap orang menerima imbalan yang sama”. Dalam sistem ekonomi sosialis, campur tangan pemerintah sangat tinggi. Justru pemerintahlah yang menentukan dan merencanakan tiga persoalan pokok ekonomi (what, how, for whom). Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya . Adapun cirri dari sistem sosialis adalah sebagai berikut : a. Lebih mengutamakan kebersamaan (kolektivisme). @ Masyarakat dianggap sebagai satu-satunya kenyataan sosial, sedang individu-individu fiksi belaka. @ Tidak ada pengakuan atas hak-hak pribadi (individu) dalam sistem sosialis. b. Peran pemerintah sangat kuat. @ Pemerintah bertindak aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga tahap pengawasan. @ Alat-alat produksi dan kebijaksanaan ekonomi semuanya diatur oleh negara. c. Sifat manusia ditentukan oleh pola produksi. @ Pola produksi (aset dikuasai masyarakat) melahirkan kesadaran kolektivisme (masyarakat sosialis). @ Pola produksi (aset dikuasai individu) melahirkan kesadaran individualisme (masyarakat kapitalis). Adapun kelebihan serta kelemahan dari sistem sosialis adalah sebagai berikut: Kelebihan Sistem Sosialis .  Disediakannya kebutuhan pokok. Setiap warga Negara disediakan kebutuhan pokoknya, termasuk makanan dan minuman, pakaian, rumah, kemudahan fasilitas kesehatan, serta tempat dan lain-lain. Setiap individu mendapatkan pekerjaan dan orang yang lemah serta orang yang cacat fisik dan mental berada dalam pengawasan Negara.  Didasarkan perencanaan Negara. Semua pekerjaan dilaksanakan berdasarkan perencanaan Negara Yang sempurna, diantara produksi dengan penggunaannya. Dengan demikian masalah kelebihan dan kekurangan dalam produksi seperti yang berlaku dalam System Ekonomi Kapitalis tidak akan terjadi.  Produksi dikelola oleh Negara Semua bentuk produksi dimiliki dan dikelola oleh Negara, sedangkan keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan-kepentingan Negara. Kelemahan Sistem Sosialis .  Sulit melakukan transaksi. Tawar-menawar sangat sukar dilakukan oleh individu yang terpaksa mengorbankan kebebasan pribadinya dan hak terhadap harta milik pribadi hanya untuk mendapatkan makanan sebanyak dua kali. Jual beli sangat terbatas, demikian pula masalah harga juga ditentukan oelh pemerintah, oelh karena itu stabilitas perekonomian Negara sosialis lebih disebabkan tingkat harga ditentukan oleh Negara, bukan ditentukan oelh mekanisme pasar.  Membatasi kebebasan. System tersebut menolak sepenuhnya sifat mementingkan diri sendiri, kewibawaan individu yang menghambatnyadalam memperoleh kebebasan berfikir serta bertindak, ini menunjukkan secara tidak langsung system ini terikat kepada system ekonomi dictator. Buruh dijadikan budak masyarakat yang memaksanya bekerja seperti mesin.  Mengabaikan pendidikan moral. Dalam system ini semua kegiatan diambil alih untuk mencapai tujuan ekonomi, sementara pendidika moral individu diabaikan. Dengan demikian, apabila pencapaian kepuasan kebendaan menjadi tujuan utama dan nlai-nilai moral tidak diperhatikan lagi. Selain dari kedua sistem ekonomi diatas, terdapat juga pandangan mengenai sistem ekonomi Islam yang akhir-akhir ini sudah mulai di terapkan dalam perekonomian Indonesia. Sistem Ekonomi Islam Dengan hancurnya komunisme dan sistem ekonomi sosialis pada awal tahun 90-an membuat sistem kapitalisme disanjung sebagai satu-satunya sistem ekonomi yang sahih. Tetapi ternyata, sistem ekonomi kapitalis membawa akibat negatif dan lebih buruk, karena banyak negara miskin bertambah miskin dan negara kaya yang jumlahnya relatif sedikit semakin kaya. Dengan kata lain, kapitalis gagal meningkatkan harkat hidup orang banyak terutama di negara-negara berkembang. Bahkan menurut Joseph E. Stiglitz (2006) , kegagalan ekonomi Amerika dekade 90-an karena keserakahan kapitalisme ini. Ketidakberhasilan secara penuh dari sistem-sistem ekonomi yang ada disebabkan karena masing-masing sistem ekonomi mempunyai kelemahan atau kekurangan yang lebih besar dibandingkan dengan kelebihan masing-masing. Kelemahan atau kekurangan dari masing-masing sistem ekonomi tersebut lebih menonjol ketimbang kelebihannya. Karena kelemahannya atau kekurangannya lebih menonjol daripada kebaikan itulah yang menyebabkan muncul pemikiran baru tentang sistem ekonomi terutama dikalangan negara-negara muslim atau negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu sistem ekonomi syariah. Negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim mencoba untuk mewujudkan suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada Al-quran dan Hadist, yaitu sistem ekonomi Syariah yang telah berhasil membawa umat muslim pada zaman Rasulullah meningkatkan perekonomian di Zazirah Arab. Dari pemikiran yang didasarkan pada Al-quran dan Hadist tersebut, saat ini sedang dikembangkan Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah di banyak negara Islam termasuk di Indonesia. Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah merupakan perwujudan dari paradigma Islam. Pengembangan ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah bukan untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang mempunyai kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem ekonomi yang telah ada. Islam diturunkan ke muka bumi ini dimaksudkan untuk mengatur hidup manusia guna mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat sebagai nilai ekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi, seluruh umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara melimpah ruah di dunia, tetapi juga dapat memenuhi ketentraman jiwa sebagai bekal di akhirat nanti. Jadi harus ada keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup di dunia dengan kebutuhan untuk akhirat. Ada tiga dasar yang menjadi prinsip sistem ekonomi syari’ah dalam Islam , yaitu: a. Tawhid Prinsip ini merefleksikan bahwa penguasa dan pemilik tunggal atas jagad raya ini adalah Allah SWT. b. Khilafah Prinsip ini mempresentasikan bahwa manusia adalah khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini dengan dianugerahi seperangkat potensi spiritual dan mental serta kelengkapan sumberdaya materi yang dapat digunakan untuk hidup dalam rangka menyebarkan misi hidupnya. c. ‘Adalah merupakan bagian yang integral dengan tujuan syariah (maqasid al-Syariah). Konsekuensi dari prinsip Khilafah dan ‘Adalah menuntut bahwa semua sumberdaya yang merupakan amanah dari Allah harus digunakan untuk merefleksikan tujuan syariah antara lain yaitu; pemenuhan kebutuhan (need fullfillment), menghargai sumber pendapatan (recpectable source of earning), distribusi pendapatan dan kesejah-teraan yang merata (equitable distribution of income and wealth) serta stabilitas dan pertumbuhan (growth and stability). Sistem ekonomi Islam bersumber dari sekumpulan hukum yang disyari’atkan oleh Allah yang ditujukan untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan, terutama dalam bidang ekonomi, dan mengatur atau mengorganisir hubungan manusia dengan harta benda, memelihara dan menafkahkannya. Tujuan sistem ekonomi ini adalah untuk menciptakan kemakmuran dan keadilan dalam . kehidupan manusia, merealisasikan kesejahteraan mereka, dan meng¬hapus kesenjangan dalam masyarakat Islam melalui pendistribusian kekayaan secara berkesinambungan, mengingat adanya kesenjangan ; itu sebagai hasil proses sosial dan ekonomi yang penting. Menurut Zallum (1983); Az-Zein (1981); An-Nabhaniy (1990); Abdullah (1990), atas dasar pandangan di atas maka asas yang dipergunakan menurut pandangan Islam berdiri di atas tiga pilar (fundamental) yakni : a. Pandangan Tentang Kepemilikan (AI-Milkiyyah) An-Nabhaniy (1990) mengatakan, kepemilikan merupakan izin As-Syari’ (Allah SWT) untuk memanfaatkan zat tertentu. Oleh karena itu, kepemilikan tersebut hanya ditentukan berdasarkan ketetapan dari As-Syari’ (Allah SWT) terhadap zat tersebut, serta sebab-sebab pemilikannya dan kepemilikan tersebut berasal dari adanya izin yang diberikan Allah SWT untuk memiliki zat tersebut, sehingga melahirkan akibatnya, yaitu adanya pemilikan atas zat tersebut menjadi sah menurut hukum Islam. Makna Kepemilikan Kepemilikan (property), dari segi kepemilikan itu sendiri, pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT, dimana Allah SWT adalah Pemilik kepemilikan tersebut sekaligus juga Allahlah sebagai Dzat Yang memiliki kekayaan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Dan berikanlah kepada mereka, harta (milik) Allah yang telah Dia berikan kepada kalian.”(QS. An-Nuur : 33). Oleh karena itu, harta kekayaan itu adalah milik Allah semata. Kemudian Allah SWT telah menyerahkan harta kekayaan kepada manusia untuk diatur dan dibagikan kepada mereka. Karena itulah maka sebenarnya manusia telah diberi hak untuk memiliki dan menguasai harta tersebut. Sebagaimana firman-Nya : “Dan nafkahkanlah apa saja. yang kalian telah dijadikan (oleh Allah) berkuasa terhadapnya. “(QS. Al-Hadid : 7) “Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu.” (QS. Nuh : 12) Dari sinilah kita temukan, bahwa ketika Allah SWT menjelaskan tentang status asal kepemilikan harta kekayaan tersebut, Allah SWT menyandarkan kepada diri-Nya, dimana Allah SWT menyatakan “Maalillah” (harta kekayaan milik Allah). Sementara ketika Allah SWT menjelaskan tentang perubahan kepemilikan kepada manusia, maka Allah menyandarkan kepemilikan tersebut kepada manusia. Dimana Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya : “Maka berikanlah kepada mereka harta-hartanya. “(QS. An-Nisaa` : 6) “Ambillah dari harta-harta mereka. “(QS. Al-Baqarah : 279) “Dan harta-harta yang kalian usahakan.” (QS. At-Taubah : 24) “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya, bila ia telah binasa.” (QS. Al-Lail :11) Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa hak milik yang telah diserahkan kepada manusia (istikhlaf) tersebut bersifat umum bagi setiap manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu agar manusia benar-benar memiliki harta kekayaan (hak milik), maka Islam memberikan syarat yaitu harus ada izin dari Allah SWT kepada orang tersebut untuk memiliki harta kekayaan tersebut dan hanya bisa dimiliki oleh seseorang apabila orang yang bersangkutan mendapat izin dari Allah SWT untuk memilikinya b. Pengelolaan Kepemilikan (at-tasharruf fi al milkiyah). Harta dalam pandangan Islam pada hakikatnya adalah milik Allah SWT. kemudian Allah telah menyerahkannya kepada manusia untuk menguasi harta tersebut melalui izin-Nya sehingga orang tersebut sah memiliki harta tersebut. Adanya pemilikan seseorang atas harta kepemilikian individu tertentu mencakup juga kegiatan memanfaatkan dan mengembangkan kepemilikan harta yang telah dimilikinya tersebut. Setiap muslim yang telah secara sah memiliki harta tertentu maka ia berhak memanfaatkan dan mengembangkan hartanya. Hanya saja dalam memanfaatkan dan mengembangkan harta yang telah dimilikinya tersebut ia tetap wajib terikat dengan ketentuan-ketentuan hukum Islam yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengembangan harta. c. Distribusi Kekayaan di Tengah-tengah Manusia Karena distribusi kekayaan termasuk masalah yang sangat penting, maka Islam memberikan juga berbagai ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu, dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta transaksi-transaksi yang wajar. Hanya saja, perbedaan individu dalam masalah kemampuan dan pemenuhan terhadap suatu kebutuhan, bisa juga menyebabkan perbedaan distribusi kekayaan tersebut di antara mereka. Selain itu perbedaan antara masing-masing individu mungkin saja menyebabkan terjadinya kesalahan dalam distribusi kekayaan. Kemudian kesalahan tersebut akan membawa konsekuensi terdistribusikannya kekayaan kepada segelintir orang saja, sementara yang lain kekurangan, sebagaimana yang terjadi akibat penimbunan alat tukar yang fixed, seperti emas dan perak. Oleh karena itu, syara’ melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan perputaran tersebut terjadi di antara semua orang. Allah SWT berfirman : “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr : 7) Studi Kasus Ekonomi Kapitalis Perbaikan-perbikan Kapitalisme Inggris sampai tahun 1875 merupakan negara kapitalis terbesar dan termaju. Tetapi pada perempat akhir abad ke-19 muncul Amerika Serikat dan Jerman. Menyusul Jepang setelah perang dunia ke-2. Pada tahun 1932 di Inggris negara mulai langsung melakukan campur tangan secara basar-besaran. Di Amerika campur tangan negara mulai ditingkatkan sejak tahun 1933. Di Jerman campur tangan negara dimulai sejak Hitler. Tujuannya tidak lain hanyalah memelihara kesinmbungan kapitalisme. Campur tangan negara ini terutama dalam bidang perhubungan pengajaran dan perlindungan terhadap hak-hak warga negara dan masa peraturan yg bersifat sosial seperti asuransi sosial dan orang-orang jompo pengangguran orang lemah pemeliharaan kesehatan perbaikan pelayanan dan peningkatan taraf hidup. Kapitalisme mulai berorientasi kepada perbikan sektoral disebabkan munculnya kaum buruh sebagai kekuatan produktif di negara-negara demokrasi tekanan dari komite hak-hak azasi manusia dan utk membendung ekspansi komunisme yg berpura-pura menolong kaum buruh dan mengklaim sebagai pembelanya . Ekonomi Sosialis Republik Rakyat Cina mencirikan ekonominya sebagai Sosialisme dengan ciri Cina. Sejak akhir 1978, kepemimpinan Cina telah memperharui ekonomi dari ekonomi terencana Soviet ke ekonomi yang berorientasi-pasar tapi masih dalam kerangka kerja politik yang kaku dari Partai Komunis. Untuk itu para pejabat meningkatkan kekuasaan pejabat lokal dan memasang manajer dalam industri, mengijinkan perusahaan skala-kecil dalam jasa dan produksi ringan, dan membuka ekonomi terhadap perdagangan asing dan investasi. Kearah ini pemerintah mengganti ke sistem pertanggungjawaban para keluaga dalam pertanian dalam penggantian sistem lama yang berdasarkan penggabunggan, menambah kuasa pegawai setempat dan pengurus kilang dalam industri, dan membolehkan berbagai usahawan dalam layanan dan perkilangan ringan, dan membuka ekonomi pada perdagangan dan pelabuhan asing. Pengawasan harga juga telah dilonggarkan. Ini mengakibatkan Cina daratan berubah dari ekonomi terpimpin menjadi ekonomi campuran. Pemerintah RRC tidak suka menekankan kesamarataan saat mulai membangun ekonominya, sebaliknya pemerintah menekankan peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi dan memperkenalkan sistem manajemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi, untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2000 Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones, SEZ) di mana hukum investasi direnggangkan untuk menarik modal asing. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 miliar orang dan PDB hanya $3.800 per kapita, Cina menjadi ekonomi keenam terbesar di dunia dari segi nilai tukar dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam daya beli. Pendapatan tahunan rata-rata pekerja Cina adalah $1.300. Perkembangan ekonomi Cina diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Cina. Ini menjadikan Cina sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Cina, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Cina sejak tanggal 1 Januari 2002 telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia . Ekonomi Islam Tak mau ketinggalan dengan negara lain dalam mengembangkan bisnis syariah, Rusia di tahun ini akan mensosialisasikan berbagai ragam bisnis syariahnya dengan menggunakan teknologi berbasis IT. Chief of The Executive, Abdul Vakhed Niyazov dalam perbincangannya di Bank Muamalat Indonesia (BMI) hari ini mengatakan, Rusia akan akan membuat Salamword.com di Indonesia, yaitu sebuah website mengenai produk-produk halal dan keuangan syariah. Selain itu mereka juga akan membuat e-dinar, yaitu pembelian dinar emas menggunakan email. Untuk mewujudkan itu semua, Abdul Vakhed Niyazov, mentargetkan akan buka kantornya di Jakarta tahun depan. Dengan demikian Rusia akan meramaikan bisnis syariah di Indonesia. Seperti apa sich Salamword.com itu? Abdul Vakhed Niyazov menambahkan, bentuknya seperti facebooks tapi syariah dengan 12 bahasa termasuk bahasa Indonesia. Selain itu juga ada daftar restoran halal dan tempat tempat ibadah. “Kami berharap dengan adanya Salam word, akan menambah keyakinan orang bertransaksi,”ujarnya. Kemudian terkait dengan kerjama dengan BMI, Abdul Vakhed Niyazov, menegaskan dengan BMI akan memanfaatkan jasa pengiriman uang dengan demikian memudahkan orang Indonesia dalam bertransaksi dengan Salamword.com Sumber : PKES Interaktif BAB III KESIMPULAN Kesimpulannya adalah dalam menjalankan suatu sistem ekonomi, yang perlu diperhatikan bukanlah sistem ekonomi apa yang harus dipakai, melainkan benar atau tidaknya pelaksanaan sistem ekonomi tersebut karena sebelum memilih suatu sistem ekonomi bagi suatu bangsa, pemerintah pasti sudah mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan sistem ekonomi tersebut dan pasti sudah memikirkan alasan mengapa memakai sistem ekonomi tersebut. DAFTAR PUSTAKA Chapra, M. Umer.2000.Islam dan Tantangan Ekonomi.Gema Insani Press.Jakarta Dumairy.1996.Perekonomian Indonesia.Erlangga: Jakarta Tambunan, Tulus T.H.2003.Perekonomian Indonesia Beberapa Masalah Penting.Ghalia Indonesia:Jakarta http://handzmentallist.blogspot.com/2010/05/kelebihan-dan-kelemahan-sistem.html http://zonaekis.com/sistem-ekonomi-kapitalis-kapitalisme/ http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme http://zonaekis.com/sistem-ekonomi-sosialis-sosialisme/ http://zonaekis.com/kebaikan-sistem-ekonomi-sosialis/ http://www.scribd.com/doc/40483320/Kepemilikan-Dalam-Ekonomi-Islam http://zonaekis.com/rusia-kembangkan-bisnis-syariah-berbasis-it/ http://blog.re.or.id/kapitalisme.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Rakyat_Cina#Ekonomi Manajemen Uin malang

Sabtu, 25 Juni 2011

DEFINISI PEMASARAN DAN MANAJEMEN PEMASARAN

BAB I PENGERTIAN, KONSEP, DEFINISI PEMASARAN DAN MANAJEMEN PEMASARAN A. Pengertian Pemasaran Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah : a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial. B. Konsep Pemasaran Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan pasar, pemasaran dan pasar. Kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar tertentu. Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sedangkan Permintaan adalah keinginan akan produk yang spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya. C. Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi. Kesimpulan : Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah sebagai kegiatan yang direncanakan, dan diorganisasiknan yang meliputi pendistribusian barang, penetapan harga dan dilakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat yang tujuannya untuk mendapatkan tempat dipasar agar tujuan utama dari pemasaran dapat tercapai. BAB II MACAM-MACAM KONSEP PEMASARAN I. Konsep Pemasaran Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara: 1. Temukan keinginan pasar dan penuhilah. 2. Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang dapat dibuat. 3. Cintailah pelanggan, bukan produk anda. 4. Lakukanlah menurut cara anda (Burger king) 5. Andalah yang menentukan (United Airlines) 6. Melakukan segalanya dalam batas kemampuan untuk menghargai uang pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu dan kepuasan (JC. Penney). Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep pemasaran global. 1. Konsep produksi Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka. 2. Konsep produk Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri – ciri terbaik 3. Konsep penjualan Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif. 4. Konsep pemasaran Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. 5. Konsep pemasaran sosial Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. 6. Konsep Pemasaran Global Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan. BAB III SISTEM PEMASARAN A. Pengertian Sistem Pemasaran Sistem adalah sekolompok item atau bagian-bagia yang saling berhubungan dan saling berkaitan secara tetap dalam membentuk satu kesatuan terpadu. Jadi dapat diartikan sistem pemasaran adalah kumpulan lembaga-lembaga yang melakukan tugas pemasaran barang, jasa, ide, orang, dan faktor-faktor lingkungan yang saling memberikan pengaruh dan membentuk serta mempengaruhi hubungan perusahaan dengan pasarnya.. Dalam pemasaran kelompok item yang saling berhubungan dan saling berkaitan itu mencakup : 1. Gabungan organisasi yang melaksanakan kerja pemasaran. 2. Produk, jasa, gagasan atau manusia yang dipasarkan. 3. Target pasar. 4. Perantara (pengecer, grosir, agen transportasi, lembaga keuangan). 5. Kendala lingkungan (environmental constraints). Sistem pemasaran yang paling sederhana terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan, yaitu organisasi pemasaran dan target pasarnmya. Unsur-unsur dalam sebuah sistem pemasaran serupa dengan unsur-unsur yang ada pada sistem radio stereo. Bekerja secara terpisah, tetapi pada waktu dipertemukan secara tepat. B. Macam – Macam Sistem Pemasaran a. Sistem pemasaran dengan saluran vertikal Pada sistem ini produsen, grosir, dan pengecer bertindak dalam satu keterpaduan. Tujuan : § Mengendalikan perilaku saluran § Mencegah perselisihan antara anggota saluran b. Sistem pemasaran dengan saluran horizontal Pada sistem ini, ada suatu kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang bergabung untuk memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul. c. Sistem pemasaran dengan saluran ganda Pada sistem ini beberapa gaya pengeceran dengan pengaturan fungsi distribusi dan manajemen digabungkan, kemudian dari belakang dipimpin secara sentral. C. Lingkungan Sebuah Sistem Pemasaran a. Lingkungan makro ekstern. Lingkungan makro tersebut ialah: a. Demografi (kependudukan). b. Kondisi ekonomi. c. Teknologi. d. Kekuatan sosial dan budaya. e. Kekuatan politik dan legal. f. Persaingan. b. Lingkungan mikro eksternal a. Pasar (market) b. Pemasok c. Pialang (marketing intermediaries) c. Lingkungan Non- – Pemasaran Intern Kekuatan non – pemasaran lainnya adalah lokasi perusahaan, ketangguhan bagian penelitian dan pengembangan. Kekuatan intern bersifat menyatu (interest) dalam organisasi dan dikendalikan oleh manajemen. BAB IV STRATEGI PEMASARAN A. Pengertian Strategi Pemasaran Strategi pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan strategi dalam pemasaran yaitu : 1. Daur hidup produk Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran. 2. Posisi persaingan perusahaan di pasar Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari pasar. 3. Situasi ekonomi Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi dan pandangan kedepan, apakah ekonomi berada dalam situasi makmur atau inflasi tinggi. B. Macam-Macam Strategi Pemasaran macam strategi pemasaran diantaranya: 1. Strategi kebutuhan primer Strategi-strategi pemasaran untuk merancang kebutuah primer yaitu: 1. Menambah jumlah pemakai dan 2. Meningkatkan jumlah pembeli. 2. Strategi Kebutuhan Selektif Yaitu dengan cara : a. Mempertahankan pelanggan misalnya: 1. Memelihara kepuasan pelanggan; 2. Menyederhanakan proses pembelian; 3. Mengurangi daya tarik atau jelang untuk beralih merk; b. Menjaring pelanggan (Acquistion Strategier) 1. Mengambil posisi berhadapan (head – to heas positioning) 2. Mengambil posisi berbeda (differentiated positin) Secara lebih jelas, strategi pemasaran dapat dibagi kedalam empat jenis yaitu: 1. Merangsang kebutuhan primer dengan menambah jumlah pemakai. 2. Merangsang kebutuhan primer dengan memperbesar tingkat pembelian. 3. Merangsang kebutuhan selektif dengan mempertahankan pelanggan yang ada. 4. Merangsang kebutuhgan selektif dengan menjaring pelanggan baru. Strategi Pemasaran Menurut Armstrong dan Kotler (2000:5), marketing adalah “A societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering and freely exchanging products and services of value with others”. Sedangkan pengertian Marketing strategy menurut Armstrong dan Kotler (2000:37), yaitu “The marketing logic by which the business unit hopes to achieve its marketing objective”. Menurut Guiltinan dan Paul (1992), definisi strategi pemasaran adalah pernyataan pokok tentang dampak yang diharapkan akan dicapai dalam hal permintaan pada target pasar yang ditentukan. Segmentasi (Segmentation) Menurut Solomon dan Elnora (2003:221), segmentasi adalah ”The process of dividing a larger market into smaller pieces based on one or more meaningful, shared characteristic”. Dengan melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah dan sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien dalam rangka memberikan kepuasan bagi konsumen. Selain itu perusahaan dapat melakukan program-program pemasaran yang terpisah untuk memenuhi kebutuhan khas masing-masing segmen. Ada beberapa variabel segmentasi yaitu: 1. Demografis Segmentasi ini dilakukan dengan membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel demografis sepert: Usia, jenis kelamin, besarnya keluarga, pendapatan, ras, pendidikan, pekerjaan, geografis. 2. Psikografis Segmentasi ini dilakukan dengan membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang berlainan menurut kelas sosial, gaya hidup, kepribadian, dan lain-lain. Informasi demografis sangat berguna, tetapi tidak selalu menyediakan informasi yang cukup untuk membagi konsumen ke dalam segmen-segmen, sehingga diperlukan segmen berdasarkan psychografis untuk lebih memahami karakteristik konsumen. 3. Perilaku Segmentasi ini dilakukan dengan membagi konsumen ke dalam segmen-segmen berdasarkan bagaimana tingkah laku, perasaan, dan cara konsumen menggunakan barang/situasi pemakaian, dan loyalitas merek. Cara untuk membuat segmen ini yaitu dengan membagi pasar ke dalam pengguna dan non-pengguna produk. Agar segmen pasar dapat bermanfaat maka harus memenuhi beberapa karakteristik: • Measurable : Ukuran, daya beli, dan profil segmen harus dapat diukur meskipun ada beberapa variabel yang sulit diukur. • Accessible : Segmen pasar harus dapat dijangkau dan dilayani secara efektif. • Substantial : Segmen pasar harus cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani • Differentiable : Segmen-segmen dapat dipisahkan secara konseptual dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap elemen-elemen dan bauran pemasaran yang berbeda. • Actionable : Program yang efektif dapat dibuat untuk menarik dan melayani segmen-segmen yang bersangkutan. Langkah dalam mengembangkan segmentasi yaitu: 1. Mensegmen pasar menggunakan variabel-variabel permintaan, seperti kebutuhan konsumen, manfaat yang dicari, dan situasi pemakaian. 2. Mendeskripsikan segmen pasar yang diidentifikasikan dengan menggunakan variabel-variabel yang dapat membantu perusahaan memahami cara melayani kebutuhan konsumen tersebut dan cara berkomunikasi dengan konsumen. Targeting Menurut Solomon dan Elnora (2003:232), Target market ialah ”Group that a firm selects to turn into customers as a result of segmentation and targeting”. Setelah pasar dibagi-bagi dalam segmen-segmen, maka perusahaan harus memutuskan suatu strategi target market. Perusahaan dapat memilih dari empat strategi peliputan pasar: 1. Undifferentiated targeting strategy, strategi ini menganggap suatu pasar sebagai satu pasar besar dengan kebutuhan yang serupa, sehingga hanya ada satu bauran pemasaran yang digunakan untuk melayani semua pasar. Perusahaan mengandalkan produksi, distribusi, dan periklanan massa guna menciptakan citra superior di mata sebagian besar konsumen. 2. Differentiated targeting strategy, perusahaan menghasilkan beberapa produk yang memiliki karakteritik yang berbeda. Konsumen membutuhkan variasi dan perubahan sehingga perusahaan berusaha untuk menawarkan berbagai macam produk yang bisa memenuhi variasi kebutuhan tersebut. 3. Concentrated targeting strategy, perusahaan lebih memfokuskan menawarkan beberapa produk pada satu segmen yang dianggap paling potensial. 4. Custom targeting strategy, lebih mengarah kepada pendekatan terhadap konsumen secara individual. Langkah dalam mengembangkan targeting yaitu: 1. Mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dengan menggunakan variable-variabel yang dapat mengkuantifikasi kemungkinan permintaan dari setiap segmen, biaya melayani setiap segmen, dan kesesuaian antara kompetensi inti perusahaan dan peluang pasar sasaran. 2. Memilih satu atau lebih segmen sasaran yang ingin dilayani berdasarkan potensi laba segmen tersebut dan kesesuaiannya dengan strategi korporat perusahaan. Positioning Menurut Solomon, dan Elnora (2003:235), Positioning ialah “Developing a marketing strategy aimed at influencing how a particular market segment perceives a good or service in comparison to the competition”. Penentuan posisi pasar menunjukkan bagaimana suatu produk dapat dibedakan dari para pesaingnya. Ada beberapa positioning yang dapat dilakukan: a. Positioning berdasarkan perbedaan produk. Pendekatan ini dapat dilakukan jika produk suatu perusahaan mempunyai kekuatan yang lebih dibandingkan dengan pesaing dan konsumen harus merasakan benar adanya perbedaan dan manfaatnya. b. Positioning berdasarkan atribut produk atau keuntungan dari produk tersebut. Pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan atribut apa yang dimiliki suatu produk dan manfaat yang dirasakan oleh kosumen atas produk tersebut. c. Positioning berdasarkan pengguna produk. Pendekatan ini hampir sama dengan targeting dimana lebih menekankan pada siapa pengguna produk. d. Positioning berdasarkan pemakaian produk. Pendekatan ini digunakan dengan membedakan pada saat apa produk tersebut dikonsumsi. e. Positioning berdasarkan pesaing. Pendekatan ini digunakan dengan membandingkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh pesaing sehingga konsumen dapat memilih produk mana yang lebih baik. f. Positioning berdasarkan kategori produk. Pendekatan ini digunakan untuk bersaing secara langsung dalam kategori produk, terutama ditujukan untuk pemecahan masalah yang sering dihadapi oleh pelanggan. g. Positioning berdasarkan asosiasi. Pendekatan ini mengasosiasikan produk yang dihasilkan dengan asosiasi yang dimiliki oleh produk lain. Harapannya adalah sebagian asosiasi tersebut dapat memberikan kesan positif terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. h. Positioning berdasarkan masalah. Pendekatan ini digunakan untuk menunjukkan kepada konsumen bahwa produk yang ditawarkan memiliki positioning untuk dapat memecahkan masalah. Langkah dalam mengembangkan strategi positioning yaitu: 1. Mengidentifikasi Keunggulan Kompetitif. Jika perusahaan dapat menentukan posisinya sendiri sebagai yang memberikan nilai superior kepada sasaran terpilih, maka ia memperoleh keunggulan komparatif. 2. Dalam menawarkan produk dengan suatu competitive advantage, perusahaan harus meyediakan suatu alasan mengapa pelanggan akan merasa bahwa produk dari perusahaan yang bersangkutan lebih baik daripada para pesaingnya. 3. Perusahaan harus mengevaluasi respon dari target market sehingga dapat memodifikasi strategi bila dibutuhkan Pengertian Saluran Distribusi Menurut Nitisemito (1993, p.102), Saluran Distribusi adalah lembaga-lembaga distributor atau lembaga-lembaga penyalur yang mempunyai kegiatan untuk menyalurkan atau menyampaikan barang-barang atau jasa-jasa dari produsen ke konsumen. Menurut Warren J. Keegan (2003) Saluran Distribusi adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri. Menurut Assauri (1990 : 3) Saluran distribusi merupakan lembaga-lembaga yang memasarkan produk, yang berupa barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Menurut Kotler (1991 : 279) Saluran distribusi adalah sekelompok perusahaan atau perseorangan yang memiliki hak pemilikan atas produk atau membantu memindahkan hak pemilikan produk atau jasa ketika akan dipindahkan dari produsen ke konsumen. Faktor yang mendorong suatu perusahaan menggunakan distributor, adalah: - Para produsen atau perusahaan kecil dengan sumber keuangan terbatas tidak mampu mengembangkan organisasi penjualan langsung. - Para distributor nampaknya lebih efektif dalam penjualan partai besar karena skala operasi mereka dengan pengecer dan keahlian khususnya. - Para pengusaha pabrik yang cukup model lebih senang menggunakan dana mereka untuk ekspansi daripada untuk melakukan kegiatan promosi. - Pengecer yang menjual banyak sering lebih senang membeli macam-macam barang dari seorang grosir daripada membeli langsung dari masing-masing pabriknya. Fungsi Saluran Distribusi Fungsi utama saluran distribusi adalah menyalurkan barang dari produsen ke konsumen, maka perusahaan dalam melaksanakan dan menentukan saluran distribusi harus melakukan pertimbangan yang baik. C. Segmentasi Pasar Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisia perbedaan antara pembeli di pasar. 1. Dasar-dasar dalam penetapan Segmentasi Pasar Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu: 1. Dasar – dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen a. Variabel geografi, diantaranya : wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim. b. Variabel demografi, diantaranya : umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dll c. Variabel psikologis, diantaranya :kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian. d. Variabel perilaku pembeli, diantaranya : manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk. 2. Dasar – dasar segmentasi pada pasar industri a. Tahap 1: menetapkan segmentasi makro, yaitu pasar pemakai akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan. b. Tahap 2: yaitu sikap terhadap penjual, ciri – ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan. 2. Syarat segmentasi Pasar Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif yaitu : a. Dapat diukur b.Dapat dicapai c. Cukup besar atau cukup menguntungkan d.Dapat dibedakan e. Dapat dilaksanakan 3. Tingkat Segmentasi Pasar Karena pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda. a. Pemasaran massal Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen. b. Pemasaran segmen Pemasarn segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian. c. Pemasaran ceruk Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub group didalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu group yang didefiniskan dengan lebih sempit. d. Pemasaran mikro Praktek penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu. 4. Manfaat Segmentasi Pasar Sedangakan manfaat dari segmentasi pasar adalah: a. Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan- kesempatan pemasaran. b. Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen. c. Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya D. Menentukan Pasar Sasaran Langkah-langkah dalam menetukan pasar sasaran yaitu : 1. Langkah pertama Menghitung dan menilai potensi keuntungan dari berbagai segmen yang ada 2. Langkah kedua Mencatat hasil penjualan tahun lalu dan memperkirakan untuk tahun yang akan datang. BAB V PERILAKU KONSUMEN A. Pengertian Perilaku Konsumen Perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang melibatkan pembelian penggunaan barang dan jasa termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut sebagai pengalaman dengan produk, pelayanan dari sumber lainnya. B. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah : 1. Faktor kebudayaan Faktor kebudayaan meliputi : a. Budaya : faktor-faktor budaya memberikan pengaruhnya paling luas pada keinginan dan perilaku konsumen. Budaya (culture) adalah penyebab paling mendasar teori keinginan dan perilaku seseorang. b. Subbudaya : setiap kebudayaan mengandung sub kebudayaan yang lebih kecil, atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang sama. Sub kebudayaan meliputi: kewarganegaraan, agama, ras, dan daerah gegrafis. c. Kelas sosial : hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas sosial. Kelas-kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya mempunyai nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama. Perilaku konsumen juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta aturan dan status sosial konsumen. Disini keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan orang ingin membeli juga dipenggaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomui, gaya hidup dan kepribadian serta konsep diri. Selain dari beberapa faktor diatas yang mempengaruhi perilaku konsumen juga dipengaruhi juga oleh faktor-faktor psikologis seseorang, yang meliputi motivasi, persepsi, pengetahuan dan keyakinan serta sikap. C. Proses Pengambilan Keputusan Pembeli a. Proses Pengambilan Keputusan Pembeli Terhadap produk Baru Sebuah produk baru adalah barang, jasa, atau ide yang dianggap baru oleh pembeli potensial. Terkadang produk yang beredar dipasaran telah lama ada, disini konsumen dapat membuat keputusan untuk menerima / mengadopsinya. Proses adopsi adalah proses mental yang dilalui seseorang, mulai dari pengenalan pertama sampai pada penerimaan / adopsi final. Tahap-tahap proses adopsi: 1. Sadar : konsumen menjadi sadar akan adanya produk baru, tetapi kekurangan informasi mengenainya. 2. Tertarik : konsumen akan menjadoi tertarik untuk mencari informasi mengenai produk baru. 3. Evalusi : konsumen harus mempertimbangkan apakah produk baru tersebut masuk akal atau tidak untuk dikonsumsi. 4. Mencoba : konsumen mencoba produk baru tersebut dalam skala kecil untuk meningkatkan perkiraan nilai produk tersebut. 5. Adopsi : konsumen memutuskan secara penuh dan teratur menggunakan produk baru tersebut. b. Tipe-Tipe Perilaku Membeli Ada empat tipe perilaku membeli, yaitu : a. Perilaku pembelian yang kompleks Disini konsumen mengakui keterikatan yang tinggi dalam proses pembeliannya, harga produk tinggi, jarang dibeli, memiliki resiko yang tinggi. Perilaku konsumen melalui proses tiga langkah, yaitu: pertama, mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua, membangun sikap, dan ketiga melakukan pilihan. b. Perilaku pembelian yang mengurangi ketidakefisienan Disini konsumen mengalami keterlibatan tinggi akan tetapi melihat sedikit perbedaan, diantara merek-merek. Konsumen mengunjungi beberapa tempat untuk mencari yang lebih cocok. 1. Perilaku pembelian karena kebiasaan Disini konsumen rendah sekali dalam proses pembelian karena tidak ada perbedaan nyata diantara berbagai merek dan harga barang relatif rendah 1. Perilaku pembelian yang mencari keragaman Disini keterlibatan konsumen yang rendah akan dihadapkan pada berbagai pemilihan merek. c. Tahap-Tahap Proses Membeli Tahap-tahap dalam proses membeli mwliputi : a. Pengenalan kebutuhan/masalah Disini orang yang akan memasarkan produk meneliti mengenai apa yang dibutuhkan, apa yang menyebabkan semua itu muncul dan mengapa seseorang membutuhkan sesuatu. Seorang pemasar akan mengenalkan pada konsumen agar lebih tertarik. b. Pencarian informasi Sumber informasi konsumen terbagi dalam empat kelompok, yaitu : 1. Sumber pribadi, meliputi: keluarga, teman-teman, tetangga, dan kenalan. 2. Sumber niaga, meliputi : periklanan, petugas penjualan, penjual kemasan dan pemajangan. 3. Sumber umum, meliputi : media massa dan organisasi konsumen. 4. Sumber pengalaman, meliputi: pernah menangani, menguji, dan mempergunakan produk. c. Pencarian alternatif Terdapat lima konsep dasar bagi pemasar dalam penilaian alternatif konsumen, yaitu : 1. Sifat-sifat produk, apa yang menjadi ciri-ciri khusus dan perhatian konsumen terhadap produk atau jasa tersebut. 2. Pemasar lebih memperhatikan pentingnya ciri-ciri produk daripada penonjolan Ciri-ciri produk. 3. Kepercayaan konsumen terhadap ciri merek yang menonjol 4. Fungsi kemanfaatan, yaitu bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan yang diperoleh dari produk dengan tingkat alternatif yang berbeda-beda setiap hari 5. Bagaimana prosedur penilaian yang dilakukan konsumen dari sekian banyak ciri-ciri barang. d. Keputusan membeli Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk membeli, yaitu : 1. Sikap orang lain : keputusan membeli itu banyak dipengaruhi oleh teman-teman, tetangga, atau siapa saja yang dipercayai 2. Faktor-faktor situasi yang tidak terduga : seperti faktor harga pendapatan

Selasa, 03 Mei 2011

JuRNL PeMasaran

SISTEM PEMASARAN TERNAK KAMBING MENDUKUNG USAHA AGRIBISNIS PERTANIAN LAHAN KERING DI NUSA TENGGARA BARAT Yohanes G. Bulu, Sasongko WR dan Sri Hastuti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB ABSTRAK Pengembangan ternak kambing di NTB dalam upaya peningkatan produksi belum dilakukan secara maksimal. Populasi ternak kambing di NTB belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal karena pertumbuhan populasi ternak kambing yang relatif lambat yang disebabkan oleh penerapan teknologi yang rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing. Menganalisis alur dan efesiensi pemasaran ternak kambing untuk mendukung usaha agribisnis serta ketahanan pangan rumah tangga di wilayah lahan kering. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2005 – April 2006 di tiga kabupaten di pulau Lombok yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Data primer dikumpulkan melalui wawancara pada responden dan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi kambing potong di NTB belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, nasional maupun internasional. Ditinjau dari aspek ekonomi, usaha ternak kambing memberikan keuntungan dan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga. Berdasarkan analisis marjin bahwa peternak menerima harga sebesar Rp 416.667/ekor kambing. Harga ini merupakan 75,76% dari harga jual pedagang pengumpul kabupaten yang menunjukkan bahwa pemasaran kambing di Pulau Lombok adalah efisien dalam pengertian relatif rendah biaya yang dibutuhkan untuk memasarkan kambing dari lokasi produsen ke lokasi konsumen. Kondisi semacam ini merupakan insentif bagi peternak yang diharapkan dapat menumbuhkan minat peternak untuk beternak kambing. Marjin pemasaran pedagang pengumpul kabupaten (17,61%) lebih tinggi dibandingkan dengan marjin pemasaran blantik (6,63%) yang disebabkan oleh: (1) blantik umumnya tidak melakukan pemeliharaan dalam waktu lama sebelum kambing dijual karena keterbatasan tempat sehingga biaya pemasaran dapat ditekan; dan (2) blantik tidak memiliki modal sendiri untuk membeli ternak kambing melainkan menggunakan modal dari pedagang pengumpul kabupaten. Kata kunci: sistem pemasaran, ternak kambing, usaha agribisnis, pertanian lahan kering. PENDAHULUAN Potensi wilayah NTB yang sebagian besar merupakan lahan kering mempunyai peluang yang sangat besar untuk pengembangan ternak kambing yang berorientasi agribisnis. Ternak kambing merupakan salah satu komoditi peternakan yang efesien, mudah dipelihara dan cepat menghasilkan, sehingga sangat relevan untuk dikembangkan pada petani kecil di wilayah pertanian lahan kering. Akan tetapi belum di dukung oleh kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan wilayah-wialayh tertentu yang berpeluang sebagai kawasan pengembangan komoditas peternakan yang berorientasi agribisnis. Ternak kambing mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kehidupan sebagian besar masyarakat petani di pedesaan sehingga diperlukan upaya-upaya peningkatan produktivitas ternak. Ternak kambing mempunyai peranan pada tiga aspek utama yaitu aspek biologis, ekonomi dan sosial budaya masyarakat yang memungkinkan pengembangan ternak kambing (Sutama, 2004). Beberapa masalah utama dalam pengembangan ternak kambing yaitu usaha pemeliharaan masih berupa usaha sampingan, penerapan teknologi rendah, keterbatasan bibit yang berkualitas, keterbatasan pakan pada musim kemarau dan keterbatasan tenaga kerja keluarga serta semakin menyempitnya lahan untuk pengembalaan khususnya di pulau Lombok (Bulu, et al, 2004b). Upaya pengembangan ternak kambing di Nusa Tenggara Barat (NTB) terutama pada wilayah lahan kering selain bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan rumah tangga, juga diharapkan mampu menggerakkan sistem produksi dan pemasaran yang berkelanjutan dalam sistem dan usaha agribisnis. Konsumsi daging kambing penduduk NTB terutama pada hari-hari raya mengalami peningkatan. Jumlah ternak kambing yang di potong antara tahun 2003 – 2005 mengalami peningkatan yaitu mencapai 3.330 ekor (30,93%), belum termasuk ternak yang di potong pada hari raya yang tidak tercatat (BPS, 2005). Gambar 1. Perkembangan jumlah pemotongan dan harga ternak kambing di NTB, 2001 - 2005 Prospek pasar ternak kambing baik pasar lokal, nasional maupun internasional dengan tingkat harga yang semakin meningkat setiap tahun maka akan mendorong sistem produksi dan pemsaran yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing untuk mendukung pengembangan ternak dan usaha agribisnis di wilayah pertanian lahan kering. MOTODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan survei. Penelitian dilakukan di pulau Lombok yang meliputi 6 kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, 3 kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah dan 2 kecamatan di Kabupaten Lombok Barat. Penetapan lokasi penelitian ditentukan secara purposif dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan sentra produksi ternak kambing atau memiliki populasi ternak kambing terbanyak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari – Desember 2005. Pemilihan responden ditentukan secara purposif. Populasi responden yang menjadi sasaran penelitian meliputi petani/peternak, blantik, pedagang pengumpul kecamatan, jagal, pedagang antarpulau, pedagang daging, pasar hewan dan rumah makan atau restoran. Data primer diperoleh melalui pengamatan, pencatatan, dan wawancara secara mendalam dengan responden dan informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan. Sedangkan data sekunder dikumpulkan pada instansi-instansi terkait. Data kuantitatif dan kualitatif yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis secara kualitatif dan deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Produksi Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (95%) petani yang memelihara ternak kambing masih merupakan usaha sampingan dengan jumlah kambing yang dipelihara berkisar 5 – 6 ekor per rumah tangga. Populasi kambing yang dipelihara rumah tangga petani masih relatif sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk menjamin kontinyutas sistem produksi dan pemasaran. Pemeliharaan kambing oleh petani belum didukung oleh penerapan teknologi yang memadai dan umumnya ternak kambing dominan digembalakan tanpa dukungan pemberian pakan yang berkualitas (Bulu, et al. 2004a). Meningkatnya kematian ternak pada musim hujan juga dipengaruhi oleh bentuk dan model kandang yang dibangun petani yang cenderung tertutup dengan pagar berlapis sehingga raltif lembab dan sulit dibersihkan. Model kandang tertutup dengan pagar berlapis dapat ditemukan di sejumlah kecamatan di wilayah Lombok bagian Selatan yang dikategorikan mempunyai tingkat kerawanan sosial tinggi. Dengan demikian masalah-masalah kerawanan sosial yang terjadi pada suatu wilayah dan komunitas masyarakat merupakan hambatan sosial dan hambatan psikologi yang dialami peternak dalam penerapan teknologi dan pengembangan ternak kambing. Kondisi sosial yang kurang aman untuk usaha peternakan menyebabkan peternak cenderung berspekulasi dan bahkan enggan untuk memilih usaha tersebut. Aspek Ekonomi Secara umum peternak menyadari bahwa pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak kambing yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan rumah tangga. Namun sampai dengan saat ini usaha ternak kambing belum dilakukan sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga yang disebabkan oleh keterbatasan modal dan manajemen usaha yang masih rendah. Bulu, et al, 2005a, menggambarkan bahwa pendapatan usaha pangan sebesar 78,9% dan pendapatan usaha ternak kambing sebesar 48,4% digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sedangkan jumlah modal yang digunakan untuk usaha ternak kambing dari kedua sumber pendapatan tersebut adalah masing-masing 5,4% dan 5,6%. Hal ini menunjukkan bahwa petani lebih memprioritaskan ketahanan pangan rumah tangga sehingga modal yang dialokasikan untuk usaha ternak kambing relatif terbatas. Ditinjau dari aspek ekonomi bahwa usaha pembibitan ternak kambing dengan jumlah induk yang dipelihara sebanyak 7 ekor relatif menguntungkan dengan tambahan keuntungan yang diperoleh selama 14 – 15 bulan sebesar Rp 1.703.863,- atau Rp 113.600,/bulan (Bulu, et al, 2005c). Kelembagaan Pemasaran Ternak Kambing Pedagang yang biasa membeli kambing baik di petani maupun di pasar hewan meliputi blantik, pedagang pengumpul kecamatan, pengumpul kabupaten, jagal dan rumah makan. Penjualan kambing sebagian besar dilakukan di pasar hewan namun ada juga yang dijual di rumah atau tempat penampungan ternak. Selain penjualan kambing di pasar-pasar hewan di pulau Lombok juga melayani permintaan kambing dari pulau Sumbawa, Madura dan permintaan bibit oleh proyek-proyek pemerintah. Ukuran kambing yang dijual bervariasi yang disesuaikan dengan permintaan pasar atau konsumen. Para pedagang kambing tidak mempunyai modal yang besar guna menunjang kegiatan pemasaran. Untuk memperlancar sistem pemasaran para pedagang menciptakan hubungan sosial dalam pemasaran kambing. Pedagang pengumpul kecamatan membeli kambing kepada pengumpul desa (blantik) dan pengumpul kabupaten kepada pengumpul kecamatan dengan sistem panjar atau bayar dibelakang (di bayar lunas setelah kambing terjual berkisar 3 – 6 hari). Selain itu jika para pedagang pengumpul yang memebeli kambing di rumah-rumah petani bertemu di satu kandang petani maka hanya satu orang yang melakukan tawar-menawar hingga mencapai harga yang disepakati. Tindakan pedagang pengumpul tersebut adalah untuk menciptakan harga bersama guna menghindari persaingan penentuan harga ternak pada saat proses tawar menawar. Untuk menjaga hubungan sosial diantara mereka maka ternak kambing yang dibeli oleh satu orang pedagang dijual bersama-sama dan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan di bagi rata dengan jumlah pedagang yang pada saat itu bertemu pada satu kandang petani. Demikian pula pembelian dan pebayaran yang dilakukan oleh rumah makan juga menggunakan pendekatan hubungan sosial. Pembayaran dengan sistem panjar sudah berlangsung selama ± 30 tahun dan selama ini sistem tersebut belum pernah menghambat kegiatan pembelian dan penjualan ternak kambing. Hubungan sosial dalam pemasaran ternak kambing yang masuk dalam sistem ekonomi menunjukkan bahwa dalam kegiatan bisnis hasil pertanian tidak selamanya berlaku hubungan ekonomi murni. Keterpaduan antara perilaku ekonomi dan sosial tentu mempunyai kelemahan-kelemahan bila ditinjau dari berbagai aspek. Bila perilaku ekonomi lebih dominan dari perilaku sosial maka tidak akan mempengaruhi sistem ekonomi di suatu wilayah. Hubungan sosial antara pedagang pengumpul dalam pemasaran ternak kambing tidak ada nilai-nilai dan aturan-aturan baku yang harus disepakati dan ditaati di antara pedagang. Hubungan sosial lain yang dibangun adalah pembagian jata dalam pengadaan ternak kambing diantara beberapa pedagang pengumpul. Jika salah satu pedagang menerima pengadaan ternak kambing dari pihak lain (pemerintah atau pengusaha) dalam jumlah besar, maka dalam pengadaan ternak dibagi kepada beberapa pedagang pengumpul. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses pengadaan dengan jumlah dan waktu yang telah disepakati. BaiklBlantik maupun pedagang pengumpul selalu memelihara hubungan baik dengan para makelar pasar (tukang pemegang tali ternak) dalam proses tawar menawar di pasar hewan. Hubungan sosial yang diciptakan antara pedagang pengumpul adalah untuk membangun keharmonisan diantara mereka untuk tetap berlaku jujur, saling menghargai dan saling percaya. Sistem Pemasaran Ternak Kambing Pengembangan usaha ternak kambing yang berorientasi agribisnis perlu mempertimbangkan sistem produksi dan jaringan pemasaran serta kemampuan daya serap pasar per kawasan. Skala usaha pemeliharaan ternak kambing bagi peternak merupakan bagian terpenting yang perlu diperhatikan untuk mendukung keberlanjutan usaha agribisnis ternak kambing di lahan kering. Penjualan ternak kambing dilakukan oleh petani/peternak pada waktu-waktu tertentu yaitu untuk memenuhi kebutuhan mendesak (untuk modal usahatani, biaya anak sekolah, kebutuhan pangan dan kebutuhan sehari-hari) dan menunggu harga kambing mahal menjelang hari raya Qurban. Tempat penjualan ternak kambing oleh petani umumnya dilakukan dirumah dimana blantik atau pedagang pengumpul mendatangi petani/peternak. Harga umumnya ditentukan oleh pembeli namun melalui proses tawar menawar. Cara untuk menentukan harga adalah dengan ditaksir berdasarkan ukuran, umur, penampilan, warna bulu dan jenis ternak kambing. Cara penentuan harga kambing dengan ditimbang hidup belum ada. Namun baik petani/peternak maupun pedagang lebih menyukai penentuan harga kambing dengan cara ditaksir. Cara tersebut lebih menguntungkan bagi penjual dibandingkan bila ditimbang hidup. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pedagang kepada petani umumnya dilakukan secara tunai. Jenis dan ukuran kambing yang dijual maupun yang diminta pasar bervariasi mulai dari anak lepas sapih, kambing muda, dan kambing dewasa serta jenis kelamin ternak. Semua ukuran kambing yang dijual petani dapat di beli pedagang karena mempunyai peluang pasar yang sama. Pembelian kambing untuk bibit dan penggemukan umumnya dilakukan petani pada sesama peternak, namun ada juga yang membeli di pasar hewan maupun pada pedagang pengumpul. Jika petani membeli di pedagang pengumpul maupun di pasar hewan harganya lebih mahal dibandingkan jika membeli pada sesama peternak. Tingkat harga ternak kambing berdasarkan kualitas ternak, biasanya kambing peranakan PE harganya lebih mahal dibanding dengan kambing lokal (kacang). Perkembangan harga kambing yang di beli petani pada sesama peternak dari semua ukuran kambing seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata Jumlah Pembelian dan Penjualan, Harga Beli dan Jual Ternak Kambing oleh Petani di NTB, 2005 (Rp/ekor) Uraian Volume beli (ekor) Volume Jual (ekor) Harga Beli (Rp) Harga Jual (Rp) Jantan dewasa 1 1 400.000 450.000 Betina dewasa 2,5 2,5 250.000 300.000 Jantan muda 1 1 150.000 175.000 Betina muda 2 2 125.000 137.500 Anak lepas sapih 2 2 100.000 125.000 Sumber: Data primer diolah Jumlah pembelian dan penjualan kambing antara beberapa pedagang relatif berbeda, hal ini disesuaikan dengan kemampuan permodalan yang dimiliki. Menjelang hari raya Qurban (Lebaran Haji) jumlah pembelian dan penjualan kambing relatif meningkat karena meningkatnya permintaan kambing potong. Meningkatnya permintaan ternak potong pada musim-musim tertentu (hari raya Qurban) diharapkan dapat membangkitkan minat peternak untuk memelihara ternak kambing. Rata-rata jumlah pembelian dan penjualan kambing berdasar ukuran dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3. Tabel 2. Rata-rata Pembelian Kambing oleh pedagang di Pulau Lombok, 2005 (ekor/bulan) Jenis Pedagang Jumlah Pembelian pada hari biasa (ekor/bulan) Jumlah Pembelian menjelang hari Qurban (ekor/bulan) Jantan besar Induk dewasa Jantan muda Betina muda Jantan besar Induk dewasa Jantan muda Betina muda Blantik 3,0 2,3 1,3 2,0 34,7 19,8 23,5 3,0 Pengumpul kecamatan 8,2 10,4 6,0 6,4 253 175,0 225,9 9,2 Pengumpul kabupaten 50,5 65,75 35,75 20,5 422,8 309,0 184,0 12,4 Jagal/Rumah makan 4,0 3,5 10,5 10,0 13,2 10,3 20,7 15,6 Jumlah 65,7 82,6 53,6 38,9 723,7 514,1 454,1 123,0 Sumber: Data primer diolah Khusus untuk pembelian dan penjualan ternak kambing potong menjelang hari raya Qurban hanya berlaku selama satu bulan. Setelah hari raya jumlah permintaan kambing potong dan harga mengalami penurunan kembali sampai mendekati harga normal. Harga kambing di pulau Sumbawa relatif lebih mahal di bandingkan di pulau Lombok disebabkan oleh populasi kambing potong yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. Untuk memnuhi kebutuhan kambing potong pada hari raya Qurban di pulau Sumbawa maka harus di pasok dari NTT berkisar 3000 – 5000 ekor per tahun. Tabel 3. Rata-Rata Penjualan Kambing oleh Pedagang di Pulau Lombok, 2005 (ekor/bulan) Jenis Pedagang Jumlah penjualan pada hari biasa (ekor/bulan) Jumlah penjualan menjelang hari Qurban (ekor/bulan) Jantan besar Induk dewasa Jantan muda Betina muda Jantan besar Induk dewasa Jantan muda Betina muda Blantik 3,0 2,3 1,3 2,0 32,7 16,8 20,5 2,0 Pengumpul kecamatan 7,6 33,1 35,3 35,3 250,0 173 223,9 8,9 Pengumpul kabupaten 49,0 65,75 35,75 20,5 420,8 307,9 182,7 12,0 Jagal/Rumah makan*) 2,0 2,5 7,5 5,0 13,0 10,0 20,0 17,0 Jumlah 61,6 103,6 79,8 62,8 716.5 507,7 447,1 39,9 Keterangan: *) Jumlah pemotongan Sumber: Data primer diolah Perkembangan harga kambing yang dipasarkan semakin meningkat setiap tahunnya seiring dengan jumlah permintaan melebihi populasi kambing potong yang tersedia terutama peningkatan harga terjadi menjelang hari raya Qurban. Dengan demikian dapat diduga bahwa ternak kambing mempunyai keunggulan kompetitif terhadap komoditas tanaman pangan serta mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan rumah tangga petani/peternak di wilayah lahan kering. Untuk meningkatkan tambahan perolehan pendapatan petani lahan kering maka salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan mengembangkan usaha ternak kambing secara terpadu dengan usahatani pangan dan palawija. Tabel 4. Perkembangan Harga Kambing di Pulau Lombok, 2006 (Rp/ekor) Uraian Harga kambing (Rp/ekor) tahun 2005 Harga kambing (Rp/ekor) tahun 2006 Hari Biasa Hari Raya Hari Biasa Hari Raya Jantan besar 500.000,00 750.000,00 550.000,00 850.000,00 Induk besar 350.000,00 500.000,00 400.000,00 550.000,00 Jantan muda 250.000,00 350.000,00 325.000,000 400.000,00 Betina muda 200.000,00 275.000,00 250.000,00 325.000,00 Anak lepas sapih 150.000,00 - 150.000,000 - Sumber: Data primer diolah Keterangan: Informasi Harga diperoleh di pasar hewan Marjin dan Alur Pemasaran Ternak Kambing Blantik umumnya membeli ternak kambing secara langsung di petani dan di pasar hewan maupun pasar umum. Penjualan kambing sebagian besar dilakukan di pasar-pasar hewan dan tempat penampungan ternak. Ukuran kambing yang dijual bervariasi yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Tingkat harga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani termasuk peternak dalam melakukan produksi. Tingkat harga diantaranya dipengaruhi oleh tingkat efisiensi pemasaran komoditas bersangkutan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran adalah marjin pemasaran. Analisis marjin pemasaran dalam tulisan ini difokuskan hanya sampai pada harga jual kambing pada tingkat pedagang pengumpul kabupaten (tidak termasuk pemasaran daging kambing). Satuan analisis selama sebulan, rata-rata harga dan volume pemasaran per bulan sudah memperhitungkan pemasaran pada musim permintaan tinggi (hari raya Qurban). Dari Tabel 5 dapat diperoleh informasi bahwa peternak menerima harga sebesar Rp 416.667/ekor kambing. Harga ini merupakan 75,76 % dari harga jual pedagang pengumpul kabupaten. Total marjin pemasaran sebesar 24,24 % didistribusikan sebagai biaya pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran masing-masing sebesar 3,40 % dan 20,84 %. Komponen utama biaya pemasaran adalah biaya angkutan (1,25 %) dan biaya tidak resmi atau biaya untuk makelar (0,97 %). Berdasarkan analisis marjin pemasaran, besaran pangsa harga peternak (75,76 %) lebih tinggi daripada pangsa marjin pemasaran (24,24 %) menunjukkan bahwa pemasaran kambing di Pulau Lombok adalah efisien dalam pengertian relatif rendah biaya yang dibutuhkan untuk memasarkan kambing dari lokasi produsen ke lokasi konsumen. Kondisi semacam ini merupakan insentif bagi peternak yang diharapkan dapat menumbuhkan minat peternak untuk beternak kambing. Marjin pemasaran pedagang pengumpul kabupaten sebesar (17,61 % ) lebih tinggi dibandingkan dengan marjin pemasaran blantik (6,63 %). Penyebab dari perbedaan marjin pemasaran tersebut diantaranya sebagai berikut. Pertama, pada umumnya blantik tidak melakukan pemeliharaan dalam waktu lama sebelum kambing dijual karena keterbatasan tempat sehingga biaya pemasaran dapat ditekan. Kedua, profit marjin yang diterima blantik lebih kecil (5,51 %) dibandingkan profit marjin yang diterima pedagang pengumpul kabupaten (15,33 %) karena blantik tidak memiliki modal sendiri untuk membeli ternak kambing melainkan menggunakan modal dari pedagang pengumpul kabupaten. Tabel 5. Marjin Pemasaran Kambing dari Peternak Sampai Pedagang Pengumpul Kabupaten di Pulau Lombok, 2005 No. Uraian Harga/Biaya (Rp) Persentase1) (%) Harga jual peternak2) 416.667 75,76 Blantik 1. Harga beli2) 416.667 75,76 2. Biaya pemasaran2) : 6.166 1,12 a. Biaya pembelian 1.667 0,30 – Transpor pembelian 1.000 0,18 – Tenaga kerja pembelian 667 0,12 b. Biaya penjualan 4.499 0,82 – Transpor penjualan 909 0,17 – Konsumsi 1.000 0,18 – Retribusi 1.000 0,18 – Makelar 1.590 0,29 3. Keuntungan blantik2) 30.292 5,51 4. Marjin pemasaran2) 36.458 6,63 5. Harga jual blantik2) 453.125 82,39 Pedagang pengumpul kabupaten 1. Harga beli2) 453.125 82,39 2. Biaya pemasaran2) : 12.545 2,28 a. Biaya pembelian 4.614 0,84 – Transpor pembelian 2.210 0,40 – Tenaga kerja pembelian 1.066 0,19 – Pakan 1.338 0,24 b. Biaya penjualan 7.931 1,44 – Transpor penjualan 2.748 0,50 – Konsumsi 523 0,10 – Retribusi 928 0,17 – Makelar 3.732 0,68 3. Keuntungan pengumpul kabupaten2) 84.330 15,33 4. Marjin pemasaran2) 96.875 17,61 5. Harga jual/harga beli PAP dan konsumen2) 550.000 100,00 Rata-rata volume pemasaran/bulan3) 765 Total keuntungan pedagang/bulan4) 87.685.830 Sumber : Data primer diolah Keterangan : 1) Persentase dari harga jual pedagang pengumpul kabupaten/harga beli pedagang antar pulau dan konsumen 2) Per ekor kambing 3) Satuan volume pemasaran adalah ekor 4) Total keuntungan blantik dan pedagang pengumpul kabupaten selama sebulan Pemasaran ternak kambing di Pulau Lombok relatif lancar dengan harga bersaing dan menguntungkan bagi petani/peternak maupun pelaku pasar itu sendiri. Blantik dan pedagang pengumpul masih sangat diperlukan oleh petani karena mempunyai peranan dalam memperlancar dan mempercepat proses dan sistem pemasaran ternak kambing. Penentuan harga kambing lebih dominan hasil kesepakatan antara pembeli dan penjual setelah melalui proses tawar menawar hingga mencapai kesepakatan harga yang dikehendaki. Sebelum ternak di jual para petani selalu mencari informasi perkembangan harga dan volume pembelian ternak kambing di pasar-pasar hewan di pulau Lombok, pedagang pengumpul dan sesama peternak yang telah menjual ternaknya. Keadaan ini dapat memperkuat posisi peternak dalam proses tawar menawar dengan pedagang pengumpul yang bersaing untuk membeli ternak kambing. Dengan demikian akan berdampak pada terbentuknya tingkat harga kambing yang menguntungkan bagi petani/peternak. Rumah makan/restoran lebih dominan membeli kambing hidup kepada pedagang pengumpul dan memotong sendiri sehingga tidak membeli daging pada jagal. Jagal lebih dominan menjual daging kepada pedagang daging, pedagang sate dan rumah tangga dengan harga berkisar Rp 26.000 – Rp 30.000/kg. Gambar 2. Alur pemasaran ternak kambing di pulau Lombok, 2005 KESIMPULAN 1. Populasi kambing yang dipelihara rumah tangga petani masih relatif sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk menjamin kontinyutas sistem produksi dan pemasaran. Produksi dan pemasaran ternak kambing khususnya di pulau Lombok mempunyai prospek yang cukup baik karena tingginya permintaan ternak potong dengan harga bersaing. 2. Untuk menjamin kontinyuitas produksi dan pemasaran ternak kambing diperlukan dukungan antara lain: (1) penerapan teknologi pemeliharaan; (2) pemberdayaan kelembagaan; (3) kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan ternak kambing pada sentra-sentra produksi di wilayah lahan kering. 3. Secara ekonomi bahwa usaha ternak kambing memberikan keuntungan dan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani lahan kering. 4. Harga yang diterima peternak sebesar Rp 416.667/ekor kambing, merupakan 75,76% dari harga jual pedagang pengumpul kabupaten yang dinilai memberikan motif yang cukup memadai bagi pengembangan agribisnis di lapangan 5. Pemasaran kambing di Pulau Lombok adalah efisien dalam pengertian relatif rendah biaya yang dibutuhkan untuk memasarkan kambing dari lokasi produsen ke lokasi konsumen. Kondisi semacam ini merupakan insentif bagi peternak yang diharapkan dapat menumbuhkan minat peternak untuk beternak kambing. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Propinsi NTB., 2004. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2004, Mataram. Badan Pusat Statistik Propinsi NTB., 2005. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka Tahun 2005, Mataram. Bulu Y.G., Mashur, W.R., Sasongko., dan A. Muzani, 2004b. Peluang Pengembangan Ternak Kambing Mendukung Agribisnis dan Pertumbuhan Ekonomi Pedesaan. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong “ Kebutuhan Innováis Teknologi Mendukung Agribisnis yang Berdayasaing”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor. Bulu, Y.G., WR Sasongko, Sri Hastuti, Wildan Arif, dan Awaludin, 2005b. Laporan Survei Pemasaran Ternak Kambing di Pulau Lombok. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB. (Tidak dipublikasikan). Bulu, Y.G., WR Sasongko., Arif Surahman, H.H. Marawali dan Mashur, 2004a. Pemberdayaan Petani Melalui Inovasi Sistem Usahatani Ternak Kambing di Lahan Kering Kabupaten Lombok Timur. Prosiding Seminar Nasional “Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian Ternak dan Pengembangan Peternakan Dalam Sistem Usaha Tani Lahan Kering”. Kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Timar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Bogor. Bulu, Y.G., WR Sasongko., dan K. Puspadi, 2005c. Model Kelembagaan Pengembangan Ternak Kambing pada Lahan Kering di Kabupaten Lombok Timar. Prosiding Seminar Nasional “Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Dalam Upaya Mempercepat Revitalisasi Pertanian dan Pedesaan Di Lahan Marginal” Kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB dengan Pusat Penelitian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Pertanian. Bogor. Bulu, Y.G., WR Sasongko., dan Mashur, 2005d. Rekomendasi Sistem Usahatani Ternak Kambing pada Lahan Kering di Lombok Timar. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. Badan Litbang Pertanian. Mataram. Sutama, I Ketut, 2004. Teknologi Reproduksi Ternak Kambing. Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi Pertanian, BPTP Nusa Tenggara Barat, Tanggal 2 Maret 2004 di Mataram.

EVOLUASI SIM TERHADAP WARNET

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karena pada zaman yang serba modern seperti saat ini perlu kita mengetahui perkembangan ilmu dan teknologi agar kita dapat bersaing dengan dengan orang lain dan negara lain yang telah menggunakan Informasi dan Teknologi karena IT sangat dibutuhkan dalam segala kegiatan sehari untuk menunjang pekerjaan kita. Dan dalam penggunaan IT sebuah perusahaan ataupun sebuah instansi sangat perlu adanaya suatu evaluasi karena dengan adanya evaluasi kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan atas penggunaan IT. 1.2 Tujuan Seperti kita ketahui bersama bahwasanya pentingnya dari suatu evaluasi adalah untuk mengecek dan mengontrol dari penggunaan suatu Teknologi agar perusahaan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depan. 1.3 Rumusan Masalah Dari beberapa alasan diatas maka dapat diketahui beberapa masalah yang terjadi antara lain: a) Kira-kira berapa kali dalam pengevaluasian? b) Apasaja yang perlu dievaluasi? c) Dan berapa lama dalam pengevaluasian? BAB II PEMBAHASAN 2.1 Metode yang Digunakan Dalam metode yang digunakan observasi dilakukan dengan beberapa cara yaitu a) Observasi langsung ke Jl. Arjuna Lodoyo Blitar b) Tanya Jawab. 2.2Gambaran Objek Usaha tersebut terletak di Jl. Lodoyo Blitar dan usaha ini didirikan pada tanggal 12 Februari 2007 jadi sampai tahun 2011 ini masih berumur 4 tahun 3 bulan 1 hari dengan Nama Astikanet, dalam beroperasinya usaha ini buka selama 24 jam dengan 4 stuff dengan cara sistem shiff atau bergantian dengan masing-masing dua orang yaitu dimulai mulai jam 07.00-20.00 dan mulai dengan 20.00-07.00 begitu seterusnya. Dalam usaha ini Astikanet memiliki sekitar 15-20 komputer yang aktif digunakan untuk ON-LINE dan bukan hanya menyediakan sistem online Astikanet juga menyediakan beberapa makanan ringan untuk menunjang kenyamanan para customernya, dalam pemesanannya sangat gampang yaitu customer hanya perlu mengeklik menu layanan yang sudah disediakan oleh pihak Astikanet yang tertera di monitor masing-masing dengan caranya hanya mengeklik menu tersebut kemudian menuliskan pesanan yang diinginkan dan layanan tersebut sudah tersambung kepada operator dan kemudian operator mengantarkan pesanan tersebut pada customer tersebut. Dalam pengevaluasiannya pihak Astikanet biasanya melakukan secara berkala dan biasanya bila menyangkut masalah hardarenya pihak Astikanet melakukannya 1bulan sekali dan meliputi softwarenya dilakukan 2 minggu sekali tergantung dari kerusakan yang bagaimana yang dialami baik meliputi keadaan Hardwarenya maupun Softwarenya dalam masing-masing komputer untuk mengetahui apakah ada kerusakan atau tidak dan dalam pengevaluasiannya tidak kurang dari sehari. Dalam pengevaluasiannya pihak Astikanet memulai pengecekan pertama dengan melihat Hardwarenya terlebih dahulu karena beliau mengatakan Hardware diibaratkan oleh rumah dari prosesor komputer sehingga merupakan pelindung dari softwarenya hal yang dilihat dari hardwarenya meliputi bagaimana keyboardnya, mousenya, RAM, monitor, dan kabel-kabel yang berhubungan dengan komputernya sehingga dapat diprediksi masih tahan berapa lama komputer tersebut. Setelah Hardwarenya telah dievalusi kemudian berganti dengan Softwarenya, hal yang perlu dievaluasi meliputi softwarenya adalah berhubungan windows yang digunakan dan beliau mengatakan biasanya pihak Astika menggunakan Windows7 dan Windows XP sehingga apakah perlu diinstal ulang apa tidak dan pengecekan apakah terdapat virus komputer yang akan merusak sistem komputer.

Senin, 07 Maret 2011

KONFLIK ORGANISASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berkelompok. Seperti yang kita lihat ahir-ahir ini, banyak sekali muncul kelompok, komunitas, ataupun organisasi dengan berbagai latar belakang. Sebuah organisasi, tentu tidak akan pernah menjadi besar jika anggotanya hanya berfikir bahwa keberadaanya dalam organisasi tersebut hanya didasarkan atas kesamaan nasib belaka. Tentu dalam perjalananya anggota organisasi yang seperti itu haruslah melakukan redefinisi atas eksistensinya tersebut.Suatu organisasi tentu akan terjadi suatu din amika dimana menuntut perhatian pengurus dan anggotanya. Dinamika organisasi yang harus dikelola secara cerdas dan konstruktif ialah terletak pada konflik yang sering timbul di suatu organisasi, karena dalam kenyataannya konflik tidak selamanya bersifat destruktif akan tetapi akan mampu meningkatkan produktifitas suatu organisasi apabila dapat di atasi dan dikelola dengan baik. Pada kenyataanya ada hal-hal yang dapat mempengaruhi pergerakan atau proses berjalannya suatu organisasi. Konflik dalam kehidupan sehari hari merupakan sesuatu hal yang mendasar dan esensial. Dalam organisasi , konflik mempunyai kekuatan yang dapat membangun kinerja staff, karena adanya variable yang bergerak bersamaan secara dinamis. Dalam hal ini, konflik merupakan suatu proses yang wajar terjadi dalam suatu organisasi atau masyarakat. Konflik yang ditata dan dikendalikan dengan baik dapat menguntungkan organisasi sebagai suatu kesatuan. Dalam menata konflik dalam organisasi diperlukan keterbukaan, kesabaran serta kesadaran semua fihak yang terlibat maupun yang berkepentingan dengan konflik yang terjadi dalam organisasi. 1.2Rumusan Masalah a.Bagaimana pengertian konfik organisasi? b.Bagaimana pandangan tentang konflik dalam organisasi? c.Bagaimana fase-fase dalam konflik organisasi? d.Apa saja sumber-sumber konflik organisasi? e.Bagaimana proses terjadinya konflik organisasi? f.Apa saja jenis-jenis konflik organisasi? g.Bagaimana factor-faktor yang mempengaruhi konflik organisasi? h.Bagiamana dampak konflik organisasi? i.Bagaimana mengatasi dan mengelola konflik dalam organisasi? 1.3Tujuan a.Untuk mengetahui pengertian konfik organisasi b.Untuk mengetahui pandangan tentang konflik dalam organisasi c.Untuk mengetahui fase-fase dalam konflik organisasi d.Untuk mengetahui sumber-sumber konflik organisasi e.Untuk mengetahui proses terjadinya konflik organisasi f.Untuk mengetahui jenis-jenis konflik organisasi g.Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi konflik organisasi h.Untuk mengetahui dampak konflik organisasi i.Untuk mengetahui mengatasi dan mengelola konflik dalam organisasi BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Konflik Kata ‘Konflik’ itu berasal dari bahasa Latin ‘Confligo’ yang terdiri dari dua kata, yakni ‘con’ yang berarti bersama-sama dan ‘fligo’ yang berarti pemogokan, penghancuran atau peremukan. Robbins dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.1 Sedang menurut Luthans konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan. Terdapat perbedaan pandangan para pakar dalam mengartikan konflik. Setidaknya ada tiga kelompok pendekatan dalam mengartikan konflik, yaitu pendekatan individu, pendekatan organisasi, dan pendekatan sosial. Namun, Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena konflik bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik. Persaingan sangat erat hubungannya denga konflik karena dalam persaingan beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik namun mudah menjurus ke arah konflik, terutuma bila ada persaingan yang menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan bukanlah konflik karena orang yang terlibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa permusuhan. Sebaliknya, orang yang saling bermusuhan bisa saja tidak berada dalam keadaan konflik. Konflik sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya. Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi) dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun bagi organisasi. Pengertian konflik yang mengacu kepada pendekatan individu antara lain disampaikan oleh Ruchyat dan Winardi. Ruchyat mengemukakan konflik individu adalah konflik yang terjadi dalam diri seseorang. Senada dengan pendapat ini Winardi mengemukakan konflik individu adalah konflik yang terjadi dalam individu bersangkutan. Hal ini terjadi jika individu 1) harus memilih antara dua macam alternatif positif dan yang sama-sama memiliki daya tarik yang sama, 2) harus memilih antara dua macam alternatif negatif yang sama tidak memiliki daya tarik sama sekali 3) harus mengambil keputusan sehubungan dengan sebuah alternatif yang memiliki konsekuensi positif maupun negatif yang berkaitan dengannya. Pengertian konflik yang mengacu kepada pendekatan sosial adalah seperti yang disampaikan oleh Cummings dan Alisjahbana. Cummings mendefinisikan konflik sebagai suatu proses interaksi sosial, dimana dua orang atau lebih, atau dua kelompok atau lebih berbeda atau bertentangan dalam pendapat dan tujuan mereka. Alisjahbana mengartikan konflik sebagai perbedaan pendapat dan pandangan di antara kelompok-kelompok masyarakat yang akan mencapai nilai yang sama. Pengertian konflik yang mengacu kepada pendekatan organisasi antara lain dikemukakan oleh para pakar berikut. Luthans mengartikan konflik sebagai ketidaksesuaian nilai atau tujuan antara anggota kelompok organisasi. Dubrint mengartikan konflik sebagai pertentangan antara individu atau kelompok yang dapat meningkatkan ketegangan sebagai akibat saling menghalangi dalam pencapaian tujuan. Sedarmayanti mengemukakan konflik merupakan perjuangan antara kebutuhan, keinginan, gagasan, kepentingan ataupun pihak saling bertentangan, sebagai akibat dari adanya perbedaan sasaran (goals) nilai (values) pikiran (cognition) perasaan (affect) dan perilaku (behavior). James A . F. Stoner menyatakan bahwa konflik organisasi adalah perbedaan pendapat antara dua atau lebih banyak anggota organisasi atau kelompok, karena harus membagi sumber daya yang langka atau aktivitas kerja dan/atau pandangan yang berbeda. 2.2 Pandangan tentang konflik dalam organisasi Ada tiga pandangan mengenai konflik, yaitu pandangan tradisional (Traditional view of conflict), pandangan hubungan manusia (human relations view of conflict), dan pandangan interaksonis (interactionism view of conflict). Pandangan tradisional menganggap semua konflik buruk. Konflik dipandang secara negatif, dan disinonimkan dengan istilah kekerasan, perusakan dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. Konflik memiliki sifat dasar yang merugikan dan harus dihindari. Pandangan tradisional ini menganggap konflik sebagai hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurangnya keterbukaan dan kepercayaan antara orang-orang, dan kegagalan para manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi para karyawan.2 Pandangan hubungan manusia menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam semua kelompok dan organisasi. Karena konflik itu tidak terelakan, aliran hubungan manusia menganjurkan penerimaan konflik. Konflik tidak dapat disingkirkan, dan bahkan adakalanya konflik membawa manfaat pada kinerja kelompok. Sementara pendekatan hubungan manusia menerima konflik, pendekatan interaksionis mendorong konflik atas dasar bahwa kelompok yang kooperatif, tenang, damai serasi cenderung menjadi statis, apatis, dan tidak tanggap terhadap kebutuhan akan perubahan dan inovasi. Oleh karena itu, sumbangan utama dari pendekatan interaksionis adalah mendorong pemimpin kelompok untuk mempertahankan suatu tingkat minimum berkelanjutan dari konflik. Dengan adanya pandangan ini menjadi jelas bahwa untuk mengatakan bahwa konflik itu seluruhnya baik atau buruk tidaklah tepat. Apakah suatu konflik baik atau buruk tergantung pada tipe konflik. Secara teoretik Robbins, mengemukakan terdapat dua tipe konflik, yaitu konflik fungsional dan konflik disfungsional. Konflik fungsional adalah sebuah konfrontasi di antara kelompok yang menambah keuntungan kinerja organisasi. Konflik disfungsional adalah setiap konfrontasi atau interaksi di antara kelompok yang merugikan organisasi atau menghalangi pencapaian tujuan organisasi. 2.3 fase-fase dalam konflik organisasi Apabila kita berbicara tentang evolusi pemikiran tentang konflik, maka dapat kita identifikasikan tiga macam fase dalam perkembangan pemikiran tentang konflik-konflik di dalam organisasi-organisasi. Adapun fase-fase tersebut adalah: a.Fase klasik(The classical phase) Fase klasik atau fase tradisional memandang konflik pada suatu organisasi sebagai hal yang bersifat disfungsional, dan sebagai sesuatu ketidaksempurnaan pada suatu organisasi, yang apabila diberi waktu dan menejemen yang baik, dapat ditiadakan secara sempurna. b.Fase hubungan antar manusia Fase hubungan manusia berhubungan dengan pemikiran tentang konflik, mengakui eksistensi konflik, tetapi konflik cenderung dianggap sebagai hal yang dapat dihindari dan sebagai sesuatu Hal yang perlu diatasi. Fase hubungan manusia memandang konflik sebagai gangguan yang mengacaukan keseimbangan suatu organisasi. Pandangan demikian merefleksi pemikiran popular yang dihubungkan dengan personal moral, hubungan manusia dan kerja sama dan nilai universal yang menyatakan bahwa konflik itu buruk. c.Fase kontemporer Pandangan yang bersifat lebih kontemporer menyatakan bahwa konflik, bukannya baik ataupun buruk bagi organisasi. Konflik sesungguhnya merupakan suatu sifat kehidupan yang tidak dapat dihindari pada suatu organisasi. Ia merupakan sebuah fakta kehidupan yang perlu dipahami dan bukan ditentang. Konflik muncul diantara individu-individu, kelompok-kelompok kecil maupun kelompok besar pada suatu organisasi. Disamping itu konflik merupakan sebuah cciri yang tidak dapat dihindari dari interaksi antara sebuah organisasi dan lingkungan eksternalnya. 2.4 Sumber sumber konflik Konflik dalam organisasi tidak terjadi secara alamiah dan terjadi bukan tanpa sumber penyebab. Penyebab terjadinya konflik pada setiap organisasi sangat bervariasi tergantung pada cara individu-individu menafsirkan, mempersepsi, dan memberikan tanggapan terhadap lingkungan kerjanya. Beberapa karakteristik organisasi khusus bisa menimbulkan konflik. Sumber-sumber konflik antar kelompok antara lain tujuan yang berseberangan, perbedaan, ketergantungan, dan sumber-sumberdaya yang terbatas. Keterkaitan karakteristik organisasi ini ditentukan oleh factor-faktor lingkungan, ukuran, teknologi, strategi, tujuan-tujuan dan struktur organisasi. Beberapa karakteristik ini nantinya akan membantu pembentukan model rasional dari pada model politis yang digunakan untuk mencapai tujuan.3 Tosi, H.L. Rizzo, J.R. dan Carrol, S.J.mengelompokkan sumber-sumber konflik menjadi tiga yaitu (1) Individual characteristic (2) Situational conditions (3) Organizations structure. Karakteristik individu meliputi; perbedaan individu dalam hal nilai-nilai, sikap, keyakinan, kebutuhan dan kepribadian, persepsi ataupun pendapat. Situasi kerja terdiri dari; saling ketergantungan untuk menjalin kerjasama, perbedaan pendapat antar departemen, perbedaan status, kegagalan komunikasi, kekaburan bidang tugas. Penyebab konflik yang ketiga adalah struktur organisasi yaitu, spesialisasi pekerjaan, saling ketergantungan dalam tugas dalam tugas, perbedaan tujuan, kelangkaan sumber-sumber, adanya pengaruh dan kekuasaan ganda, perbedaan kriteria dalam sistem penggajian. 2.5 Proses terjadinya konflik organisasi Konflik tidak terjadi secara seketika, melainkan melalui tahapan-tahapan tertentu. Robbins menjelaskan konflik terjadi melalui lima tahap, yaitu tahap oposisi atau ketidakcocokan potensial; tahap kognisi dan personalisasi; tahap maksud; tahap perilaku; dan tahap hasil. Tahap I: Oposisi atau Ketidakcocokan Potensial Langkah pertama dalam proses komunikasi adalah adanya kondisi yang menciptakan kesempatan untuk munculnya konflik itu. Kondisi itu tidak perlu langsung mengarah ke konflik, tetapi salah satu kondisi itu perlu jika konflik itu harus muncul. Demi sederhananya, kondisi ini (yang juga dapat dipandang sebagai kasus atau sumber konflik) telah dimampatkan ke dalam tiga kategori umum: komunikasi, struktur, dan variabel pribadi. Tahap II: Kognisi dan Personalisasi Jika kondisi-kondisi yang disebut dalam Tahap I mempengaruhi secara negatif sesuatu yang diperhatikan oleh satu pihak, maka potensi untuk oposisi atau ketidakcocokan menjadi teraktualkan dalam tahap kedua. Kondisi anteseden hanya dapat mendorong ke konflik bila satu pihak atau lebih dipengaruhi oleh, dan sadar akan adanya, konflik itu. Tahap II penting karena di situlah persoalan konflik cenderung didefinisikan. Tahap III: Maksud Maksud berada di antara persepsi serta emosi orang dan perilaku terang-terangan mereka. Maksud merupakan keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu. Dapat diidentifikasikan lima maksud penanganan-konflik: bersaing (tegas dan tidak kooperatif), berkolaborasi (tegas dan kooperatif), menghindari (tidak tegas dan tidak kooperatif), mengakomodasi (kooperatif dan tidak tegas), dan berkompromi (tengah-tengah dalam hal ketegasan dan kekooperatifan) Tahap IV: Perilaku Perilaku konflik ini biasanya secara terang-terangan berupaya untuk melaksanakan maksud-maksud setiap pihak. Tetapi perilaku-perilaku ini mempunyai suatu kualitas rangsangan yang terpisah dari maksud. Sebagai hasil perhitungan atau tindakan yang tidak terampil, kadangkala perilaku terang-terangan menyimpang dari maksud-maksud yang orsinil. Tahap V: Hasil Jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan konsekuensi. Hasil ini dapat fungsional, dalam arti konflik itu menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok, atau disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok.4 2.6 Jenis-Jenis Konflik Organisasi Konflik terdiri atas lima jenis, yaitu: konflik dalam diri individu konflik antar individu konflik antar anggota dalam satu kelompok konflik antar kelompok konflik antar bagian dalam organisasi, dan konflik antar organisasi. a.Konflik dalam diri individu Konflik ini merupakan konflik internal yang terjadi pada diri seseorang. (intrapersonal conflict). Konflik ini akan terjadi ketika individu harus memilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, dan bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan. Handoko mengemukakan konflik dalam diri individu, terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya. b.Konflik antar individu Konflik antar individu (interpersonal conflict) bersifat substantif, emosional atau kedua-duanya. Konflik ini terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan di mana hasil bersama sangat menentukan. c.Konflik antar anggota dalam satu kelompok Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif. Konflik subtantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu. d.Konflik antar kelompok Konflik intergroup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan, dan meningkatnya tuntutan akan keahlian. e.Konflik antar bagian dalam organisasi Tentu saja yang mengalami konflik adalah orang, tetapi dalam hal ini orang tersebut "mewakili" unit kerja tertentu. Menurut Mulyasa konflik ini terdiri atas 1)Konflik vertikal. Terjadi antara pimpinan dengan bawahan yang tidak sependapat tentang cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu. Misalnya konflik antara kepala sekolah dengan guru. 2)Konflik horizontal. Terjadi antar pegawai atau departemen yang memiliki hierarki yang sama dalam organisasi. Misalnya konflik antar tenaga kependidikan. 3)Konflik lini-staf. Sering terjadi karena adanya perbedaan persepsi tentang keterlibatan staf dalam proses pengambilan keputusan oleh manajer lini. Misalnya konflik antara kepala sekolah dengan tenaga administrasi. 4)Konflik peran. Terjadi karena seseorang memiliki lebih dari satu peran. Misalnya kepala sekolah merangkap jabatan sebagai ketua dewan pendidikan. f.Konflik antar organisasi Konflik antar organisasi terjadi karena mereka memiliki saling ketergantungan pada tindakan suatu organisasi yang menyebabkan dampak negatif terhadap organisasi lain. Misalnya konflik yang terjadi antara sekolah dengan salah satu organisasi masyarakat. 2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi Konflik Organisasi Dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan factor ekstern. Dalam faktor intern dapat disebutkan beberapa hal : 1. Kemantapan organisasi Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang matang mempunyai pandangan hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai dan lain-lain. 2. Sistem nilai Sistem nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah atau benar. 3. Tujuan Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para anggotanya. Sedangkan faktor ekstern meliputi : 1. Keterbatasan sumber daya Kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik. 2. Derajat ketergantungan dengan pihak lain Semakin tergantung satu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi. 3. Pola interaksi dengan pihak lain Pola yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola tertutup menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.5 2.8 Dampak Konflik terhadap Kinerja Organisasi Suatu konflik merupakan hal wajar dalam suatu organisasi. Tjutju Yuniarsih, mengemukakan bahwa konflik tidak dapat dihindari dalam organisasi, akan tetapi konflik antar kelompok sekaligus dapat menjadi kekuatan positif dan negatif, sehingga manajemen seyogyanya tidak perlu menghilangkan semua konflik, tetapi hanya pada konflik yang menimbulkan dampak gangguan atas usaha organisasi mencapai tujuan. Beberapa jenis atau tingkatan konflik mungkin terbukti bermanfaat jika digunakan sebagai sarana untuk perubahan atau inovasi. Dengan demikian konflik bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan, tetapi merupakan sesuatu hal yang perlu untuk dikelola agar dapat memberikan kontribusinya bagi pencapaian tujuan organisasi. Phillip L. Hunsaker mengemukakan bahwa: Konflik itu bukan sesuatu yang negatif, tetapi hal itu secara alami akan tetap ada dalam setiap organisasi. Bagaimanapun konflik itu bila dikelola dengan baik maka konflik dapat mendukung percepatan pencapaian tujuan organisasi. Ketika konflik dikelola secara baik, dapat menumbuhkan kreativitas, inovasi dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan perubahan positif bagi pengembangan organisasi. Sejalan dengan pendapat di atas, Richard J. Bodine mengemukakan bahwa: Konflik itu terjadi secara alami dan bagian vital dalam kehidupan. Ketika konflik dapat dipahami secara wajar, ia dapat menjadi peluang dan kreativitas dalam pembelajaran/pendidikan. Konflik secara sinergis dapat menumbuhkan kreativitas baru, kadang‑kadang tidak dapat diduga sebelumnya. Tanpa konflik tidak akan terjadi perubahan bagi pengembangan pribadi maupun perubahan masyarakat. Mengingat bahwa konflik tidak dapat dihindari, maka pendekatan yang baik untuk diterapkan para manajer adalah pendekatan yang mencoba memanfaatkan konflik sedemikian rupa sehingga konflik dapat memberikan sumbangan yang efektif untuk mencapai sasaran‑sasaran yang diinginkan. Konflik sesungguhnya dapat menjadi energi yang kuat jika dikelola dengan baik, sehingga dapat dijadikan alat inovasi. Akan tetapi sebaliknya jika tidak dapat dikendalikan mengakibatkan kinerja organisasi rendah. Hal senada juga diungkapkan oleh Depdikbud yang dikutip oleh D. Deni Koswara bahwa selain mempunyai nilai positif, konflik juga mempunyai kelemahan, yaitu : a.Konflik dapat menyebabkan timbulnya perasaan "tidak enak" sehingga menghambat komunikasi. b.Konflik dapat membawa organisasi ke arah disintegrasi. c.Konflik menyebabkan ketegangan antara individu atau kelompok. d.Konflik dapat menghalangi kerjasama di antara individu mengganggu saluran komunikasi. e.Konflik dapat memindahkan perhatian anggota organisasi tujuan organisasi. Untuk itu pendekatan konflik sebagai bagian normal dari perilaku dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mempromosikan dan mencapai perubahan ‑ perubahan yang dikehendaki sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien. Berkaitan dengan hal ini Robbins mengemukakan bahwa konflik dapat konstruktif maupun destruktif terhadap berfungsinya suatu kelompok atau unit. Tingkat konflik dapat atau terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ekstrim manapun merintangi kinerja. Suatu tingkat yang optimal adalah kalau ada cukup konflik untuk mencegah kemacetan, merangsang kreativitas, memungkinkan lepasnya ketegangan, dan memprakarsai benih-benih untuk perubahan, namun tidak terlalu banyak, sehingga tidak menggangu atau mencegah koordinasi kegiatan. Tingkat konflik yang tidak memadai atau berlebihan dapat merintangi keefektifan dari suatu kelompok atau organisasi, dengan mengakibatkan berkurangnya kepuasan dari anggota, meningkatnya kemangkiran dan tingkat keluarnya karyawan, dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Tetapi bila konflik itu berada pada tingkat yang optimal, puas-diri dan apatis seharusnya diminimalkan, motivasi ditingkatkan lewat penciptaan lingkungan yang menantang dan mempertanyakan dengan suatu vitalitas yang membuat kerja menarik, dan sebaiknya ada sejumlah karyawan yang keluar untuk melepaskan yang tidak cocok dan yang berprestasi buruk dari organisasi itu.6 2.9 Mengatasi dan Mengelola Konflik dalam Organisasi Konflik antar individu atau antar kelompok dapat menguntungkan atau merugikan bagi kelangsungan organisasi. Oleh karena itu, pimpinan organisasi dituntut memiliki kemampuan manajemen konflik dan memanfaatkan konflik untuk meningkatkan kinerja organisasi. Criblin mengemukakan manajemen konflik merupakan teknik yang dilakukan pimpinan organisasi untuk mengatur konflik dengan cara menentukan peraturan dasar dalam bersaing. Tosi, et al. berpendapat bahwa: Manajemen konflik dalam organisasi menjadi tanggung jawab pimpinan (manajer) baik manajer tingkat lini (supervisor), manajer tingkat menengah (middle manager), dan manajer tingkat atas (top manager), maka diperlukan peran aktif untuk mengarahkan situasi konflik agar tetap produktif. Manajemen konflik yang efektif dapat mencapai tingkat konflik yang optimal yaitu, menumbuhkan kreativitas anggota, menciptakan inovasi, mendorong perubahan, dan bersikap kritis terhadap perkembangan lingkungan. 7 Tujuan manajemen konflik adalah untuk mencapai kinerja yang optimal dengan cara memelihara konflik tetap fungsional dan meminimalkan akibat konflik yang merugikan Mengingat kegagalan dalam mengelola konflik dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi, maka pemilihan terhadap teknik pengendalian konflik menjadi perhatian pimpinan organisasi. Tidak ada teknik pengendalian konflik yang dapat digunakan dalam segala situasi, karena setiap pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Gibson, mengatakan, memilih resolusi konflik yang cocok tergantung pada faktor-faktor penyebabnya, dan penerapan manajemen konflik secara tepat dapat meningkatkan kreativitas, dan produktivitas bagi pihak-pihak yang mengalami Menurut Handoko secara umum, terdapat tiga cara dalam menghadapi konflik yaitu: (1) stimulasi konflik (2) pengurangan atau penekanan konflik (3) penyelesaian konflik. Stimulasi konflik diperlukan apabila satuan-satuan kerja di dalam organisasi terlalu lambat dalam melaksanakan pekerjaan karena tingkat konflik rendah. Situasi konflik terlalu rendah akan menyebabkan para karyawan takut berinisiatif akhirnya menjadi pasif. Perilaku dan peluang yang dapat mengarahkan individu atau kelompok untuk bekerja lebih baik diabaikan, anggota kelompok saling bertoleransi terhadap kelemahan dan kejelekan pelaksanaan pekerjaan. Pimpinan (manajer) organisasi perlu merangsang timbulnya persaingan dan konflik yang dapat mempunyai dampak peningkatan kinerja anggota organisasi. Pengurangan atau penekanan konflik, manajer yang mempunyai pandangan tradisional berusaha menekan konflik sekecil-kecilnya dan bahkan berusaha meniadakan konflik daripada menstimuli konflik. Strategi pengurangan konflik berusaha meminimalkan kejadian konflik tetapi tidak menyentuh masalah-masalah yang menimbulkan konflik. Penyelesaian konflik berkenaan dengan kegiatan-kegiatan pimpinan organisasi yang dapat mempengaruhi secara langsung pihak-pihak yang bertentangan. Demikian halnya, Winardi berpendapat bahwa, manajemen konflik meliputi kegiatan-kegiatan; (1) Menstimulasi konflik (2) Mengurangi atau menekan konflik (3) Menyelesaikan konflik Stimulasi konflik diperlukan pada saat unit-unit kerja mengalami penurunan produktivitas atau terdapat kelompok-kelompok yang belum memenuhi standar kerja yang ditetapkan. Metode yang dilakukan dalam menstimulasi konflik yaitu; (a) memasukkan anggota yang memiliki sikap, perilaku serta pandangan yang berbeda dengan norma-norma yang berlaku (b) merestrukturisasi organisasi terutama rotasi jabatan dan pembagian tugas-tugas baru (c) menyampaikan informasi yang bertentangan dengan kebiasaan yang dialami (d) meningkatkan persaingan dengan cara menawarkan insentif, promosi jabatan ataupun penghargaan lainnya (e) memilih pimpinan baru yang lebih demokratis. Tindakan mengurangi konflik dilakukan apabila tingkat konflik tinggi dan menjurus pada tindakan destruktif disertai penurunan produktivitas kerja di tiap unit/bagian. Metode pengurangan konflik dengan jalan mensubstitusi tujuan-tujuan yang dapat diterima oleh kelompok-kelompok yang sedang konflik, menghadapkan tantangan baru kepada kedua belah pihak agar dihadapi secara bersama, dan memberikan tugas yang harus dikerjakan bersama sehingga timbul sikap persahabatan antara anggota-anggota kelompok. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Konflik dalam organisasi bisa terjadi dalam diri individu pegawai, antar individu, dalam kelompok, antar kelompok dan antar organisasi, baik secara vertikal maupun horizontal sebagai akibat adanya perbedaan karakteristik individu, masalah komunikasi dan struktur organisasi. Konflik dapat bersifat fungsional dan disfungsional. Kemampuan manajemen konflik dari seorang manajer dituntut untuk mengoptimalkan semua konflik menjadi fungsional. Kegagalan dalam manajemen konflik mengakibatkan efektivitas organisasi dipertaruhkan. Daftar Pustaka Prabu-Mangkunegara. A. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Rosdakarya SP-Hasibuan, M (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Tjutju Yuniarsih, (1998), Manajemen Organisasi, IKIP Bandung Press, Bandung. Nurhasanah, Siti, (2005), Teori Organisasi, Malang: UMM Press Robbin, Jusuf Udaya, (1994), Teori Organisasi, Jakarta: Arcan Winardi, (2003), Teori Organisasi dan Pengorganisasian, Jakarta: PT Raja Grafindo

Jangan Lupa Beri Komentar yahcc...!!! Terima kasih atas Kunjungannya,, :-)

 
Design Downloaded from Free Website Templates Download | Free Textures | Web Design Resources